Kupi Senye
Pacuan Kuda di Persimpangan Nurani: Antara Empati dan Pemulihan Ekonomi
Pacuan kuda bisa menjadi momentum kebangkitan ekonomi pascabencana di Aceh Tengah, sementara disisi lain empati korban harus diprioritaskan.
Hadis ini bukan sekadar dalil normatif, melainkan kompas moral dalam setiap kebijakan publik—terutama yang menyangkut penderitaan banyak orang.
Mencari Titik Temu, dari Kompromi Menuju Keberpihakan
Di sinilah publik hearing menemukan relevansinya. Ia tidak boleh berhenti sebagai formalitas, tetapi harus menjadi ruang kejujuran dan keberanian moral: mendengar langsung suara korban, mengukur kesiapan sosial—bukan hanya kesiapan teknis dan anggaran, serta menimbang prioritas secara jernih: mana yang mendesak, mana yang bisa ditunda.
Jika pada akhirnya event tetap dilaksanakan, maka ada prasyarat etik yang tidak bisa ditawar: korban terdampak harus menjadi bagian utama dari manfaat ekonomi, anggaran harus berpihak pada pemulihan nyata, dan penyelenggaraan harus menjauhi kesan euforia berlebihan.
Sebaliknya, jika diputuskan untuk menunda atau mengalihkan, maka itu bukan bentuk kemunduran—melainkan keberanian untuk berpihak pada rasa kemanusiaan.
Peka atau Pekak
Pada akhirnya, polemik ini bukan hanya tentang pacuan kuda. Ia adalah cermin bagi kita semua: apakah kita masih memiliki kepekaan terhadap penderitaan sesama, atau mulai kebal oleh rutinitas dan kepentingan?
Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 6)
Namun kemudahan itu tidak lahir dari tergesa-gesa menutup luka, melainkan dari kesabaran dalam merawatnya hingga benar-benar sembuh.
Pacuan kuda bisa menjadi simbol kebangkitan. Tetapi empati adalah fondasinya. Tanpa empati, kebangkitan hanya akan menjadi ilusi—terlihat hidup, tetapi sesungguhnya rapuh.
Maka sebelum keputusan diambil, mari kita jujur bertanya pada diri sendiri: apakah kita sedang membangun pemulihan yang hakiki, atau sekadar menciptakan kesan seolah-olah sudah pulih?
*) Penulis adalah warga Aceh Tengah, salah seorang Relawan Tanpa Batas Jagong Jeget Peduli.
| Idul Adha Menyembelih Sifat Kebinatangan dalam Diri |
|
|---|
| Menyembelih Ego: Hikmah Terdalam dari Syiar Qurban |
|
|---|
| Zulhijjah: Antara Puasa Arafah dan Euforia Meugang |
|
|---|
| Aceh dan Sinyal Kemunduran: Ketika Kekhususan Kehilangan Ruhnya |
|
|---|
| Implementasi Kurikulum Merdeka untuk Membentuk Karakter Religius Siswa di SMAN 15 Takengon |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Penulis-opini-Mahbub-Fauzie-1.jpg)