Senin, 8 Juni 2026

Kupi Senye

Pacuan Kuda di Persimpangan Nurani: Antara Empati dan Pemulihan Ekonomi

Pacuan kuda bisa menjadi momentum kebangkitan ekonomi pascabencana di Aceh Tengah, sementara disisi lain empati korban harus diprioritaskan.

Tayang:
Editor: Budi Fatria
TribunGayo.com
Kupi Senye - Penulis opini Mahbub Fauzie warga Aceh Trngah, salah seorang relawan tanpa batas Jagong Jeget Peduli. 

Hadis ini bukan sekadar dalil normatif, melainkan kompas moral dalam setiap kebijakan publik—terutama yang menyangkut penderitaan banyak orang.

Mencari Titik Temu, dari Kompromi Menuju Keberpihakan

Di sinilah publik hearing menemukan relevansinya. Ia tidak boleh berhenti sebagai formalitas, tetapi harus menjadi ruang kejujuran dan keberanian moral: mendengar langsung suara korban, mengukur kesiapan sosial—bukan hanya kesiapan teknis dan anggaran, serta menimbang prioritas secara jernih: mana yang mendesak, mana yang bisa ditunda.

Jika pada akhirnya event tetap dilaksanakan, maka ada prasyarat etik yang tidak bisa ditawar: korban terdampak harus menjadi bagian utama dari manfaat ekonomi, anggaran harus berpihak pada pemulihan nyata, dan penyelenggaraan harus menjauhi kesan euforia berlebihan.

Sebaliknya, jika diputuskan untuk menunda atau mengalihkan, maka itu bukan bentuk kemunduran—melainkan keberanian untuk berpihak pada rasa kemanusiaan.

Peka atau Pekak

Pada akhirnya, polemik ini bukan hanya tentang pacuan kuda. Ia adalah cermin bagi kita semua: apakah kita masih memiliki kepekaan terhadap penderitaan sesama, atau mulai kebal oleh rutinitas dan kepentingan?

Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 6)

Namun kemudahan itu tidak lahir dari tergesa-gesa menutup luka, melainkan dari kesabaran dalam merawatnya hingga benar-benar sembuh.

Pacuan kuda bisa menjadi simbol kebangkitan. Tetapi empati adalah fondasinya. Tanpa empati, kebangkitan hanya akan menjadi ilusi—terlihat hidup, tetapi sesungguhnya rapuh.

Maka sebelum keputusan diambil, mari kita jujur bertanya pada diri sendiri: apakah kita sedang membangun pemulihan yang hakiki, atau sekadar menciptakan kesan seolah-olah sudah pulih?

*) Penulis adalah warga Aceh Tengah, salah seorang Relawan Tanpa Batas Jagong Jeget Peduli.

 

Sumber: TribunGayo
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved