Berita Aceh Tengah

Warung Kopi Pak H Kahen, Warkop Legenda di Takengon

Warung Kopi Kahen, salah satu warung kopi favorit warga Kota Takengon. Warung tersebut memanfaatkan sebuah bangunan ruko permanen.

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Mawaddatul Husna
TRIBUNGAYO.COM/FIKAR W EDA
Suasana Warung Kahen di Takengon, Aceh Tengah, Rabu (30/11/2023). 

Warung Kopi Pak H Kahen, Warkop Legenda di Takengon

Laporan Fikar W Eda | Aceh Tengah

TRIBUNGAYO.COM, TAKENGON - Pagi subuh, Takengon diselimuti kabut dan disergap udara dingin. Suhu 16 derajat Celcius. 

Tapi Warung Kahen siap mengantarkan kehangatan dengan secangkir kopi panas dan kopi susu telor kocok (wing). 

Warung Kahen terletak di Jalan Sengeda Takengon, tak jauh dari Hotel Mahara.

Warung itu dibuka setiap hari sebelum  adzan subuh, tutup pukul 18.00 WIB. 

Selalu ramai dikunjungi pelanggan, ada jamaah masjid, petani, nelayan, politisi, polisi, pemuda dan pegawai negeri sipil.

Baca juga: Dishub Aceh Tengah Tegur Pihak Ketiga, Terkait Sulit Membedakan Parkir Liar dan Legal

Warung Kopi Kahen, salah satu warung kopi favorit warga Kota Takengon. Warung tersebut memanfaatkan sebuah bangunan ruko permanen.

Meski tak menggunakan papan nama, hampir tak ada warga Kota Takengon yang tak mengenal Warung Kahen.

Warung ini selalu ramai dikunjungi. Salah satu pelanggan tetapnya adalah para jamaah subuh.

Jamaah  dari Mersah  Belang Mersa Takengon, langsung melangkahkan kaki menuju Warung Kahen selepas menunaikan shalat shubuh.

Begitu juga dengan jamaah dari masjid-masjid lain di seputar Takengon, bertemu di warung ini.

Ada jamaah dari Masjid Agung Ruhama, Masjid Al Abrar Kebanyakan, Masjid Taqwa Hakim Bale Bujang dan lain-lain.

Baca juga: Disdikbud Aceh Tengah Gelar Karya P5, Sekolah Penggerak Tampil Kreativitas Wujud Kurikulum Merdeka

Warung ini satu dari dua warung kopi yang buka paling pagi.

Satu lagi warung Rakan Geutanyo, milik seorang Aceh. Letak kedua warung ini--Kahen dan Rakan Geutayo--saling berdekatan, dipisahkan satu jalan.

Tapi masih di blok pasar yang sama. Makanan yang tersedia juga khas, ada kue bohong, kue kacang, pulut panggang, dna lain-lain.

Begitu juga sajian minuman, ada kopi tubruk, kopi saring, teh wing dan lain-lain. Yang asyik dari kedua warung ini adalah, tempat pertemuan antar jamaah subuh. Silaturrahmi betul-betul menjelma di kedai kopi.

Warung Kahen salah satu warung legenda kota dingin itu.

Ketika matahari pagi mulai tegas, pelanggan warung kian beragam. Jamaah masjid berganti dengan pelanggan lain.

Baca juga: Wisata Aceh Tengah, Rekomendasi 2 Tempat Camping Seru di Takengon untuk Liburan yang Tak Terlupakan

Perbincangan antar pelanggan pun kian beragam. Mulai topik  remeh temeh sampai kepada masalah-masalah berat yang dihadapi dunia internasional. Ini tahun politik, tentu perbincangan tak lepas dari caleg dan capres. 

Kapolres Aceh Tengah, AKBP Dody Indra Eka Putra, termasuk salah seorang pelanggan warung ini.

Ia datang bersama jamaah Masjid Agung Ruhama Takengon. Ada Reje Merah Merasa Ir H Ismail Wahab, Ketua Masjid Ruhama Dr Halihasimi, MA, dan banyak lagi.

Sesekali Pj Bupati Aceh Tengah, Teuku Mirzuan juga ngopi pagi di warung ini.

Kahen adalah nama lain dari H Melki Tanujaya, sang pemilik warung.

Ia turunan Tionghoa yang lahir dan besar di Gayo. Ia mualaf, lahir pada 8 Agustus 1948, menikah dengan perempuan Gayo, dikaruniai empat anak.

Baca juga: Wisata Aceh Tengah, Jelajahi Rumah Peradaban Gayo Umah Pitu Ruang Unik dan Sarat Nilai Budaya

Warung milik Kahen termasuk salah satu yang tertua di ibukota Kabupaten Aceh Tengah itu.

Ia mulai terlibat dalam usaha warung kopi sejak 1973. Ketika itu ia bekerja di warung kopi “Rindang” milik Pak  Tua-nya atau paman.

Merasa sudah kuat mandiri, Kahen lantas membuka warung sendiri pada 1976 dengan nama “Suka Ramai.” 

Pada masa itu, di Takengon baru ada tiga warung kopi milik pengusaha turunan Tionghoa dan lima warung lainnya milik  orang  Aceh.

Warung milik pengusaha Tionghoa adalah Rindang, Warung Hidup alias Kerempeng, dan Suka Ramai milik Kahen.

Sementara warung milik orang Sceh Aceh  adalah Sinar Famili, Sinar Pagi, Surya, Warung Delima dan Alhilal.

Baca juga: Wisata Aceh Tengah, Jelajahi Objek Destinasi Milenial Menarik untuk Libur Lebaran Idul Adha 2023

Pak Kahen, saat masih muda, memang memilih bekerja di warung kopi, karena tak punya biaya melanjutkan pendidikan selepas tamat Sekolah Menengah Atas (SMA) 1 Takengon pada 1969.

“Zaman itu sangat susah. Mau kuliah tak ada biaya,” kenang Kahen.

Pilihannya menekuni usaha warung kopi, karena usaha tersebut tidak membutuhkan modal besar.

“Gula bisa beli secara cicil, sementra kopi tersedia banyak di Aceh Tengah,” katanya.

Awalnya Kahen membuka warung kopi di Kampung Baleatu Takengon. Pindah ke warung Jalan Sengeda pada 1981.

Dari usahanya itu, Kahen bisa membeli kebun kopi dan menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi.

Dua anaknya berprofesi sebagai dokter, dan satu lagi bekerja di PT Telkomsel. Usaha warung kopinya sekarang diteruskan oleh anak dan menantunya.

Baca juga: Wisata Aceh Tengah, Berikut 8 Destinasi di Takengon yang Paling Populer dan Wajib Dikunjungi

Kahen sendiri sudah merasa cukup tua dan harus pensiun. Ia naik haji 2006.

Meski di Takengon saat ini menjamur warung kopi modern dengan peralatan seduh kopi yang juga modern, Kahen tidak ingin mengubah ciri warungnya.

Ia tetap menekuni warung kopi saring yang diseduh  manual. Untuk mempertahankan citarasa kopi, Kahen sendiri yang mengolah bubuknya, mulai membeli biji kopi sampai kepada menggongseng yang juga dilakukan secara manual menggunakan belanga besi.

“Dulu memang bisa ludes 40 Kg seminggu. Akhir-akhir ini menurun menjadi 30 kilogram kopi per minggu. Ini barangakli di Takengon sudah banyak warung kopi,” sebut Kahen mengenai penurunan omsetnya.

Kahen juga tak ingin mengganti bubuk kopinya dari robusta menjadi arabika. Juga tak ingin memasang papan nama warung.

“Biarlah seperti itu, karena masyarakat sudah mengenalnya begitu,” katanya.

Kecuali sekarang di bagian dalam warung sudah ada tulisan Warkop Pak H Kahen dan gambar sktesta dirinya.

Pak Kahen sendiri saat ini lebih banyak berdiam di rumah. Bang Adi--menanti Pak Kahen-- bersama istri, kini meneruskan usaha warung tersebut. 

Datanglah ke warung Pak Kahen selepas subuh, Anda akan menemukan banyak cerita dan beruntung bisa bersua kawan lama. Sambil bernostalgia. Bahagia. (*)

 

Sumber: TribunGayo
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved