Selasa, 19 Mei 2026

Kupi Senye

Membangun Budaya Integritas Aparatur Sipil Negara

Apabila tugas-tugas suatu instansi dilaksanakan oleh individu yang jujur, maka instansi tersebut akan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.

Tayang:
FOTO IST
ASN Pemkab Aceh Singkil, Tomi Subhan. 

Oleh: Tomi Subhan *) 

Integritas merupakan aspek yang sangat vital bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN).

Tanpa adanya integritas, pelaksanaan tugas ASN dalam melayani masyarakat dan menjalankan kebijakan publik dapat
terganggu.

Mempertahankan integritas bukanlah tugas yang mudah. ASN seringkali dihadapkan pada berbagai godaan, terutama yang berkaitan dengan aspek keuangan, ketika melaksanakan tugas mereka.

Faktanya banyak ASN yang terlibat dalam kasus korupsi, seperti memberikan suap, memanipulasi harga pengadaan, melakukan pembelanjaan fiktif, mengatur pemenang lelang, memanipulasi perjalanan dinas.

Solusinya adalah dengan membangun budaya integritas yang kuat, sistem integritas yang transparan dan akuntabel.

Selain itu, penting untuk menegakkan hukum dengan tegas bagi pelanggar integritas.

Makna Integritas

Pembentukan budaya integritas melibatkan proses internalisasi pemahaman dan komitmen terhadap integritas oleh seluruh elemen di dalam instansi pemerintah, termasuk para pimpinan, pegawai, dan pihak eksternal, dengan tujuan untuk mendukung penegakan integritas di dalam instansi tersebut.

Integritas merupakan kualitas yang sangat penting dalam kehidupan individu maupun dalam suatu instansi.

Individu yang memiliki integritas akan dianggap jujur dan dapat dipercaya oleh orang lain.

Sebaliknya, individu yang tidak jujur tidak akan mendapatkan kepercayaan dari orang lain.

Apabila tugas-tugas suatu instansi dilaksanakan oleh individu yang jujur, maka instansi tersebut akan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.

Namun, jika sebaliknya terjadi, instansi tersebut juga tidak akan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.

Oleh karena itu, setiap anggota instansi harus menjadikan integritas sebagai prinsip yang dipegang.

Dengan menjunjung tinggi integritas, instansi akan dipercaya, dihormati, dan dicintai oleh masyarakat.

Integritas merupakan landasan yang kuat dalam membangun hubungan yang baik antara individu dan instansi dengan masyarakat.

Dalam konteks instansi, integritas juga berarti menjaga kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat.

Instansi harus berkomitmen untuk melaksanakan tugas-tugasnya dengan jujur dan transparan.

Mereka harus menghindari segala bentuk korupsi, penyalahgunaan wewenang, atau tindakan yang merugikan
masyarakat.

Penanaman Nilai-nilai Integritas

Penanaman karakter integritas melalui pelatihan tidak hanya berlaku untuk ASN baru, tetapi juga untuk
ASN yang telah lama bekerja.

ASN baru perlu mendapatkan materi mengenai integritas sebagai langkah awal dalam proses penanaman karakter integritas.

Nilai integritas menjadi dasar moral bagi ASN baru dalam menjalankan tugas mereka sebagai ASN di masa depan.

Bagi ASN yang telah lama bekerja, pemberian materi mengenai integritas berfungsi sebagai pengingat dan penguatan saat mengikuti pelatihan.

Integritas moral adalah salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh para ASN.

Pembentukan budaya integritas dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan agama dan pendekatan nasionalisme.

Pendekatan agama dilakukan dengan mengajarkan nilai-nilai kejujuran yang sesuai dengan keyakinan agama para ASN.

Diharapkan bahwa melalui pendekatan ini, para ASN akan terdorong untuk memperkuat integritas mereka berdasarkan pada hati nurani mereka.

Penanaman nilai-nilai agama dianggap sebagai metode yang paling efektif dalam memperkuat integritas.

Pendekatan nasionalisme juga dapat digunakan untuk membangun budaya integritas, nilai-nilai nasionalisme ditanamkan pada para pegawai.

Dengan pemahaman akan pentingnya integritas dalam membangun bangsa.

Penting bagi para ASN untuk memahami pentingnya hidup sederhana dan menjauhi keserakahan.

Dalam teori yang membahas faktor pendorong korupsi, serakah dan kebutuhan menjadi faktor utama.

Sifat serakah membuat seseorang selalu merasa kekurangan dan terdorong untuk mencari cara apapun untuk
memenuhi kebutuhan tersebut.

Begitu pula dengan kebutuhan, seseorang selalu merasa kebutuhannya belum terpenuhi sepenuhnya.

Misalnya, meskipun seseorang sudah memiliki rumah, ia mungkin ingin rumah yang lebih baik, lebih
mewah, dan sebagainya.

Dorongan untuk memenuhi kebutuhan tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial dapat mendorong seseorang untuk melakukan korupsi.

Satuan kerja memiliki kemampuan untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan terjalinnya hubungan antar pegawai yang saling peduli, saling menguatkan, dan saling mengingatkan.

Bantuan dapat diberikan kepada pegawai yang menghadapi kesulitan dalam kehidupannya, seperti masalah
keluarga, ekonomi, sosial, dan lain-lain.

Dalam kesimpulannya, integritas merupakan kualitas yang sangat penting dalam kehidupan individu maupun dalam suatu instansi.

Individu yang memiliki integritas akan dipercaya dan dihormati oleh orang lain.

Begitu pula dengan instansi, jika tugas-tugasnya dilaksanakan dengan jujur, maka instansi tersebut akan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.

Oleh karena itu, setiap individu dan instansi harus menjadikan integritas sebagai prinsip yang dipegang dalam menjalankan tugas-tugasnya, sehingga akan terwujudlah tujuan birokrasi yang melayani dengan baik, transparan serta akuntabel. (*)

*) Penulis adalah ASN Pemkab Aceh Singkil 

KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

 

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved