Jumat, 5 Juni 2026

Berita Aceh Tengah

Kopi Gayo dan Peran yang Bisa Dimainkan Program ESG Perbankan

Di pasar internasional kopi ini dikenal dengan berbagai nama seperti Gayo Mountain Coffee, Mandheling Gayo, Sumatra Gayo, dan Sumatra Mandheling.

Tayang:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Sri Widya Rahma
ISTIMEWA
KOPI GAYO - Puisi berjudul "Kopi Pagi Kopi Gayo" diciptakan oleh Fikar W Eda pada tahun 2013. Kopi Gayo menyumbang lebih dari 50 persen dari total ekspor kopi arabika Indonesia, dengan nilai Rp 690 miliar. 

Di pasar internasional kopi ini dikenal dengan berbagai nama seperti Gayo Mountain Coffee, Mandheling Gayo, Sumatra Gayo, dan Sumatra Mandheling.

Pada tahun 2016, devisa dari kopi Gayo mencapai Rp 5 triliun.

Melebihi Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Aceh Tengah yang hanya Rp 1,2 triliun.

Saat itu Bupati Aceh Tengah Ir Nasaruddin MM, menyebut bahwa kopi arabika Gayo telah diekspor ke 17 negara di seluruh benua.

Dengan Amerika Serikat sebagai konsumen terbesar.

Bagi masyarakat Gayo, kopi adalah napas kehidupan.

Dari biji kopi, mereka hidup dan menyambung hidup.

Dari kopi, mereka menyekolahkan anak-anak hingga perguruan tinggi.

Dari kopi pula, mereka menikah dan naik haji.

Kopi adalah harta karun, zamrud khatulistiwa yang dirawat dengan sepenuh hati.

Hamparan perkebunan kopi rakyat menyelimuti bukit dan lembah Tanah Gayo, membentuk lanskap hijau yang memesona.

Gunung berapi Burni Telong menjulang dengan permadani hijau di kakinya, hamparan perkebunan kopi yang dilindungi oleh pepohonan lamtoro.

Keindahan ini semakin lengkap dengan pantulan hijau kebiruan Danau Lut Tawar di kejauhan.

Dari biji kopi yang dijuluki zamrud khatulistiwa inilah, masyarakat Gayo mengarungi masa depan.

Bukan hanya masa depan kopi semata, tetapi juga masa depan ekosistem yang menopangnya.

Sumber: TribunGayo
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved