Jumat, 24 April 2026

Kupi Senye

Sejarah Umah Pitu Ruang

Umah Pitu Ruang adalah rumah adat tradisional suku Gayo yang berasal dari dataran tinggi Aceh, seperti Takengon, dan Bener Meriah.

Editor: Sri Widya Rahma
Dokumen Pribadi/Fitri Hidayati
KUPI SENYE - Fitri Hidayati Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam di IAIN Takengon.  

Karena fungsinya yang multifungsi, umah menjadi pusat budaya dan simbol keberlanjutan tradisi dalam masyarakat Gayo.

7. Ancaman Mordenisasi dan Upaya Pelestarian

Seiring perkembangan zaman, banyak masyarakat Gayo yang mulai meninggalkan rumah adat dan beralih ke rumah-rumah modern berbahan semen dan beton.

Faktor seperti efesiensi biaya, kemudahan perawatan, dan gaya hidup praktis menjadi alasan utama perubahan ini. Sayangnya hal ini menyebabkan keberadaan umah semakin langka.

Hanya segelintir rumah adat yang masih berdiri, itupun sebagian besar dalam kondisi kurang terawat. Namun, berbagai upaya pelestarian telah dilakukan,anatara lain:

  • Revitalisasi rumah adat oleh pemerintah daerah, membangun kembali umah sebagai cagar budaya atau museum lokal.
  • Pengajaran kearifan lokal di sekolah, termasuk sejarah umah arsitekturnya, dan nilai budayanya.
  • Pelatihan tukang tradisional, agar keterampilan membangun umah tidak punah.

Festival budaya Gayo, yang menampilkan rumah adat sebagai ikon utama dalam pertunjukan seni dan pariwisata.

Dengan dukungan dari masyarakat, akademisi, dan pemerintah, umah dapat dilestarikan sebagai warisan budaya yang tak ternilai.

Penutup

Rumah adat Gayo atau umah bukan hanya sebuah bangunan kuno, melainkan kebudayaan dan kearifan lokal yang mencerminkan cara hidup masyarakat dataran tinggi tanoh Gayo.

Dari bentuk fisiknya yang unik hingga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, umah adalah warisan leluhur yang patut dijaga.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi, pelestarian umah menjadi tugas bersama agar generasi masa depan tetap dapat belajar dan terinspirasi dari jati diri dan warisan budaya leluhurnya.

Rumah adat Gayo bukan hanya milik masyarakat Gayo, tetapi juga bagian dari kekayaan bangsa Indonesia yang harus dirawat, dihargai, dan di lestarikan.

*) Penulis adalah Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam di IAIN Takengon. 

KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

 

Sumber: TribunGayo
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved