Kupi Senye
Raja Ampat Dirusak oleh Rakusnya Manusia
Tak hanya itu, konflik kepentingan dan penindasan terhadap rakyat Papua terus terjadi. Tanah mereka dirampas, suara mereka dibungkam.
Oleh: Iman Ahmadi *)
Sebelum viral ke publik kasus tambang di Raja Ampat, kita tidak benar-benar tahu bahwa negeri ini menyimpan sepotong serpihan surga di bumi.
Pulau-pulau kecil yang menjulang di atas laut biru, hutan lebat yang menyatu dengan langit, dan kehidupan laut yang memesona.
Sebuah mahakarya ciptaan Allah yang tak tertandingi.
Sungguh, alam Raja Ampat adalah lukisan Tuhan yang menakjubkan membuat siapa pun yang melihatnya terdiam dalam kekaguman.
Bagi seorang muslim, tempat seperti ini semestinya menjadi sarana tadabbur alam, merenungi keagungan Sang Pencipta.
Sebab, siapa pun yang melihat keindahan itu dengan hati yang jernih, akan tunduk dan mengakui bahwa hanya Allah yang Maha Kuasa.
Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS. Ali ‘Imran: 190)
Namun kini, keindahan itu ternoda. Lukisan indah itu perlahan rusak, tergores oleh kerakusan manusia.
Tambang nikel masuk ke jantung Raja Ampat, menebas pepohonan, meracuni sungai, mencemari laut, dan mengusir satwa dari habitatnya.
Dibalik pembangunan yang dijanjikan, justru kehancuran yang dibawa.
Kita teringat sebuah dialog dalam sejarah penciptaan manusia. Saat Allah mengabarkan pada para malaikat bahwa Dia akan menciptakan khalifah di bumi, mereka bertanya:
"Apakah Engkau hendak menjadikan makhluk yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu".
Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah: 30).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Iman-Ahmadi-OPINI-TRIBUNGAYO.jpg)