Sabtu, 6 Juni 2026

Kupi Senye

Raja Ampat Dirusak oleh Rakusnya Manusia

Tak hanya itu, konflik kepentingan dan penindasan terhadap rakyat Papua terus terjadi. Tanah mereka dirampas, suara mereka dibungkam.

Tayang:
ISTIMEWA
OPINI TRIBUNGAYO - Iman Ahmadi adalah Tokoh Muda Pelaku Adat Istiadat di Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah. Ia menuliskan opini berjudul 'Raja Ampat Dirusak oleh Rakusnya Manusia', Selasa (10/6/2025). 

Betapa dalam makna ayat ini. Ketika manusia menjauh dari wahyu, menggunakan akal tanpa petunjuk dari Allah, maka ketakutan para malaikat itu benar-benar terjadi.

Kerusakan demi kerusakan muncul, darah ditumpahkan, dan keadilan pun lenyap.

Allah SWT telah mengingatkan:

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: 41).

Kerusakan di Raja Ampat bukan satu-satunya. Papua, yang selama ini tersisih dari sorotan media, telah lama menjadi ladang kerusakan.

Deforestasi besar besaran terjadi untuk membuka lahan sawit dan tambang.

Menurut laporan Greenpeace (2022), lebih dari 4.000 hektar hutan Papua hilang hanya dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir karena ekspansi industri.

Padahal hutan Papua adalah paru-paru terakhir dunia, rumah bagi ribuan spesies endemik, dan sumber kehidupan masyarakat adat.

Tak hanya itu, konflik kepentingan dan penindasan terhadap rakyat Papua terus terjadi. Tanah mereka dirampas, suara mereka dibungkam.

Sementara para pemodal dan penguasa terus menumpuk kekayaan di atas penderitaan rakyat kecil.

Inilah akibatnya ketika akal tidak dituntun oleh wahyu. Ketika Al-Qur’an ditinggalkan sebagai pedoman hidup. Padahal Allah telah memberi peringatan:

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha: 124)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kerusakan terbesar di dunia terjadi karena dua perkara: berpaling dari wahyu dan mengikuti hawa nafsu.”

Bukankah itu yang sedang kita saksikan hari ini?

Negeri ini mayoritas muslim. Tapi hukum yang berlaku bukan hukum Islam.

Sumber: TribunGayo
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved