Kupi Senye
Fenomena Cognitive Dissonance pada Korban Pelecehan Seksual yang Dilakukan oleh Orang Terdekat
Dalam konteks pelecehan seksual, terutama yang dilakukan oleh sosok yang dipercaya, disonansi ini bisa menjadi sangat kompleks.
Ketika Otak Menolak Percaya: Fenomena Cognitive Dissonance pada Korban Pelecehan Seksual yang Dilakukan oleh Orang Terdekat
Oleh : Liza Sera S Psi *)
Fenomena pelecehan seksual yang terjadi dikalangan masyarakat, membuat sebagian orang merasa ikut merasakan kesedihan, merasa miris atas kejadian yang menimpa korban.
Apalagi kejadian yang terjadi dilakukan oleh orang terdekat, entah itu keluarga, teman dekat, pasangan, atau sosok figur yang dipercaya.
Dan kejadian ini sering kali menjadi luka yang paling sulit dipahami oleh korban.
Banyak masyarakat yang bertanya: “Mengapa korban bisa diam begitu lama ?”.
“Mengapa korban bisa tetap bertahan di dekat pelaku ? dan “Mengapa korban masih membela orang yang menyakitinya?".
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini sering kali terletak pada fenomena psikologis yang disebut cognitive dissonance.
Apa Itu Cognitive Dissonance ?
Cognitive dissonance adalah kondisi ketika seseorang mengalami pertentangan antara dua keyakinan, nilai atau pengalaman yang saling bertolak belakang.
Sehingga menimbulkan tekanan emosional dan kebingungan yang dialami oleh korban.
Dalam konteks pelecehan seksual, terutama yang dilakukan oleh sosok yang dipercaya, disonansi ini bisa menjadi sangat kompleks.
Korban tidak hanya berhadapan pada trauma yang dialami, tetapi juga benturan psikologis antara realitas yang dialami.
Dan gambaran tentang pelaku yang selama ini adalah sosok yang diyakini dapat mengayomi dan sosok pahlawan bagi kehidupanya.
Bayangkan seorang remaja yang sangat menghormati sosok yang selama ini dianggap sebagai panutan, penuh perhatian, serta menasehati untuk menjadi pribadi yang lebih kuat.
Namun suatu hari, perhatian itu berubah menjadi sentuhan yang tidak semestinya.
Dunia yang tadinya penuh kegembiraan mulai retak. Disatu sisi, korban tahu bahwa yang terjadi adalah salah. Tubuhnya menolak, hatinya menjerit.
Tetapi pikirannya berusaha untuk menutupi dengan berbagai alasan.
“Mungkin dia hanya bercanda,” mungkin aku salah paham, atau “dia kan orang baik baik tidak mungkin berniat buruk.
Bagaimana Cognitive Dissonance Bekerja?
Cognitive dissonance bekerja, memecah pikiran korban menjadi dua bagian yang saling bertarung.
Satu sisi korban memiliki keyakinan pelaku adalah orang baik, pelaku tidak mungkin melakukan hal tersebut, pelaku adalah keluarga sendiri.
Namun pengalaman pelecehan membawa pesan tersendiri antara lain pelaku menyentuh korban dengan
ancaman, korban merasa takut dan tidak nyaman.
Bagi sebagian situasi, korban merasa ketergantungan emosional atau ekonomi pada pelaku baik secara finansial dan sosial.
Sehingga ketergantungan ini membuat korban sulit mengakui kebenaran yang merusak stabilitas hidup korban.
Kemudian masyarakat sering menyalahkan korban dan membuat korban berpikiran seperti.
"Kalau aku cerita semua akan hancur”. Perasaan ini membuat otak berusaha mencari narasi yang lebih aman walaupun tidak benar.
Sehingga benturan antara keyakinan dan realitas ini menimbulkan disonansi yang menyakitkan.
Bagaimana Bentuk Cognitive Dissonance pada Korban?
Beberapa bentuk pemikiran atau perilaku yang timbul dari korban pelecehan seksual, membentuk reaksi psikologis.
Antara lain korban merasionalisasikan perilaku pelaku, menyalahkan diri sendiri, korban memiliki fikiran merasa korban bersalah karna tidak menjauh.
Kemudian korban menganggap kejadian bukan masalah besar, menolak cerita kepada orang lain, korban memiliki pikiran seandainya bercerita kepada orang lain, maka keluarga akan berantakan.
Terakhir korban akan tetap mempertahankan hubungan dengan pelaku, bukan karena korban tidak sadar.
Tetapi karena hubungan itu menyimpan sejarah panjang yang sulit dibuang begitu saja.
Dari beberapa bentuk perilaku yang timbul dari korban, tentu akan membawa dampak buruk bagi psikologis korban.
Korban cenderung mengalami kecemasan dan tekanan yang berkepanjangan, depresi, ketakutan pada relasi
baru.
Kemudian kehilangan kepercayaan diri, luka berlapis (trauma, kebingungan identitas, serta kehilangan support system.
Inilah mengapa pelecehan oleh orang terdekat sering lebih mematikan secara emosional dibanding pelaku asing.
Bagaimana Korban Dapat Mengurangi Cognitive Dissonance pada Kasus Pelecehan Seksual yang dilakukan oleh Orang Terdekat?
Hal terpenting yang dapat dilakukan oleh korban adalah mengakui apa yang dialami adalah salah.
Pengakuan internal adalah langkah awal untuk memutus disonansi, mendapat validasi dari lingkungan aman.
Konseling dengan ahli (psikolog), membangun batasan yang tegas dengan pelaku.
Kemudian lingkungan sering menjadi faktor penentu apakah disonansi korban berkurang atau justru semakin mempeburuk trauma.
Korban akan lebih baik jika lingkungan tidak menyalahkan korban, tidak memaksa korban untuk memaafkan,
Tidak menutup kasus demi nama baik keluarga, memberikan tempat aman untuk bersuara, menghormati proses pemulihan korban.
Karena pada dasarmya cognitive dissonance bukan kelemahan korban.
Ia adalah mekanisme bertahan hidup yang terbentuk ketika seseorang harus berhadapan dengan kenyataan yang terlalu menyakitkan.
Ditengah maraknya kasus pelecehan seksual orang terdekat yang terjadi pada era sekarang ini, memahami cognitive dissonance bukan hanya kajian psikologi.
Tetapi kebutuhan sosial untuk memastikan korban mampu pulih tanpa harus berjalan sendirian. (*)
*) Penulis adalah Guru Bimbingan Konseling di SMA Muhammadiyah Gayo Lues dan Alumni Psikologi UIN AR-Raniry Banda Aceh 2020.
KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca juga: Kasus Ayah Nodai Anak Kandung di Gayo Lues, Ini Tanggapan Aktivis Perempuan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Liza-Sera.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.