Jumat, 5 Juni 2026

Kupi Senye

Jarak yang Membentang, Bencana yang Menyisakan Duka

Banyak warung makan yang menyediakan makanan gratis untuk mahasiswa dengan alamat KTP Sumatra- Aceh.

Tayang:
ISTIMEWA
OPINI TRIBUNGAYO - Ahmad Syafiq Sidqi adalah mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Semester 6 Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam asal Kecamatan Jagong Jeget, Kabupaten Aceh Tengah. Ia menulis opini berjudul 'Jarak yang Membentang, Bencana yang Menyisakan Duka', Minggu (8/2/2026). 

Oleh: Ahmad Syafiq Sidqi *)

Bencana yang melanda Sumatra dan Aceh baru-baru ini menyisakan luka mendalam bagi masyarakat.

Rumah-rumah terendam air, lahan pertanian rusak parah, dan aktivitas warga lumpuh total, dan jembatan jembatan banyak sekali yang putus total.

Jalan-jalan yang biasanya ramai kini berubah menjadi genangan luas, sementara sekolah dan fasilitas umum tidak dapat digunakan.

Kehidupan sehari-hari masyarakat terguncang, terutama bagi mereka yang menggantungkan hidup dari hasil bumi.

Saya mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta asal Kabupaten Aceh Tengah Desa Jagong jeget, dan anak rantau yang tinggal jauh dari kampung halaman, berita tentang bencana ini bukan sekadar informasi biasa. 

Setiap kabar yang datang dari tanah kelahiran terasa seperti pukulan emosional yang menimbulkan keresahan.

Jarak yang membentang membuat mereka tidak bisa hadir langsung untuk membantu keluarga.

Keresahan Anak Rantau

Mereka hanya bisa memantau dari media sosial, menunggu kabar lewat telepon, atau membaca berita dari media daring.

Namun, rasa cemas tak pernah reda. Hati terus gelisah memikirkan kondisi orang tua, saudara dan tetangga yang sedang berjuang menghadapi bencana.

Keresahan anak rantau semakin besar ketika komunikasi tidak selalu lancar.

Sinyal yang terganggu atau listrik yang padam di kampung halaman membuat kabar sering terlambat.

Dalam situasi seperti ini, rasa tidak berdaya semakin terasa.

Mereka ingin pulang, namun pekerjaan, kuliah, jarak, dan keterbatasan transportasi membuat langkah itu sulit diwujudkan.

Akhirnya, doa menjadi penghubung utama antara hati anak rantau dengan kampung halaman.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved