Minggu, 12 April 2026

Kupi Senye

Refleksi Bencana Alam di Tanah Gayo

Bencana alam yang kerap melanda wilayah Gayo, khususnya banjir dan longsor, bukan sekadar peristiwa alam biasa.

ISTIMEWA
OPINI TRIBUN GAYO - Reje Keramat Mupakat, Iman Ahmadi SPd I menulis opini berjudul 'Refleksi Bencana Alam di Tanah Gayo', Minggu (12/4/2026). 

Oleh: Iman Ahmadi SPd I *)

Bencana alam yang kerap melanda wilayah Gayo, khususnya banjir dan longsor, bukan sekadar peristiwa alam biasa.

Ia adalah pesan yang mengandung makna mendalam bagi kita semua bahwa hubungan antara manusia dan alam harus kembali dijaga dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Secara historis, wilayah Gayo memang memiliki karakter geografis yang unik.

Sebagian kawasan merupakan daerah rawa, daerah resapan air, serta dikelilingi perbukitan yang rawan longsor.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, intensitas bencana terasa semakin meningkat.

Hal ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan iklim global, tetapi juga tidak terpisahkan dari aktivitas manusia yang kurang memperhatikan keseimbangan lingkungan.

Kita harus jujur mengakui bahwa masih banyak kebiasaan yang berkontribusi terhadap memperparah kondisi ini mulai membuang sampah sembarangan, penyumbatan drainase, hingga alih fungsi lahan yang tidak terkendali. 

Drainase yang seharusnya menjadi jalur air justru dipenuhi sedimen dan sampah, sehingga tidak mampu menampung debit air saat hujan deras.

Refleksi dari semua ini adalah pentingnya membangun kesadaran kolektif.

Penanganan bencana tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah.

Perlu keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari menjaga kebersihan lingkungan, aktif dalam gotong royong, hingga mendukung program pembangunan yang berorientasi pada keberlanjutan.

Di sisi lain, pemerintah juga diharapkan lebih serius dalam penataan tata ruang, pembangunan sistem drainase yang baik, serta memperkuat mitigasi bencana berbasis masyarakat.

Edukasi tentang Kesiapsiagaan Bencana

Edukasi tentang kesiapsiagaan bencana harus terus digalakkan agar masyarakat tidak hanya menjadi korban, tetapi juga menjadi bagian dari solusi.

Bencana adalah ujian, tetapi juga pengingat. Dari setiap musibah, kita diajarkan untuk lebih peduli, lebih bijak, dan lebih bersatu.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved