Rabu, 3 Juni 2026

Kupi Senye

Ketika Rakyat "Menyewa Negara"

Legitimasi negara tidak hanya dibangun oleh pidato, regulasi, atau seremoni kekuasaan. Legitimasi lahir ketika masyarakat merasakan kehadiran negara..

Tayang:
Editor: Budi Fatria
ISTIMEWA
Penulis opini, Zakiul Fuady Muhammad Daud yang merupakan dosen di IAIN Takengon. 

Jalur ini menyangkut distribusi ekonomi, akses pendidikan, pelayanan kesehatan, mobilitas masyarakat, hingga keberlangsungan hidup banyak keluarga.

Ketika akses seperti ini terganggu berbulan-bulan, maka dampaknya tidak hanya berupa kemacetan. Ia memukul ekonomi rakyat secara perlahan. Yang membuat publik semakin gelisah adalah karena di saat rakyat sedang bergelut dengan
persoalan jalan, longsor, dan akses hidup sehari-hari, ruang publik nasional justru lebih sering dipenuhi berita tentang agenda-agenda besar kekuasaan, termasuk kunjungan luar negeri yang terus berlangsung.

Tentu hubungan internasional penting. Diplomasi penting. Kerja sama global juga penting. Tetapi ada satu prinsip dasar yang tidak boleh dilupakan: sebesar apa pun orientasi global sebuah pemerintahan, rakyat tetap akan menilai dari hal yang paling dekat dengan hidup mereka.

Rakyat tidak pertama-tama bertanya tentang forum internasional. Mereka bertanya: kapan jalan kami selesai? Kapan akses ekonomi kami pulih? Kapan negara benar-benar hadir?

Dan pertanyaan seperti itu tidak bisa dijawab hanya dengan narasi optimisme. Ia harus dijawab dengan tindakan nyata. Yang terjadi di Enang-Enang sesungguhnya memperlihatkan dua wajah Indonesia sekaligus.

Wajah pertama adalah rakyat yang luar biasa. Rakyat yang masih memiliki solidaritas sosial tinggi. Rakyat yang tetap bergerak bahkan ketika keadaan sulit.

Tetapi wajah kedua adalah wajah birokrasi yang sering kalah cepat dibanding penderitaan masyarakat.

Kita tentu berharap pemerintah pusat maupun pemerintah terkait tidak melihat peristiwa ini sekadar sebagai aksi swadaya yang inspiratif. Sebab jika dibaca secara jujur, ini sesungguhnya adalah kritik sosial yang sangat keras. Rakyat sedang menunjukkan bahwa mereka masih mampu bergotong royong. Tetapi pada saat yang sama, mereka juga sedang bertanya dengan diam: 

Di mana negara ketika kami membutuhkannya?

Dan pertanyaan itu jauh lebih berat daripada longsor yang menutup Jalan Enang-Enang itu
sendiri.

*) Penulis adalah Dosen IAIN Takengon

KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Sumber: TribunGayo
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved