Kupi Senye
Guru Antara Kenyataan dan Harapan
Nasib guru bagaikan gula, tidak pernah tersebut jika meraih keberhasilan dan begitu kegagalan menyertainya, barulah mereka tersebut kata “guru”.
Marilah guru, ikhlas seperti gula yang larut tak terlihat, tapi sangat bermakna. Gula memberi rasa manis, pada kopi, tapi orang menyebutnya, kopi manis bukan kopi gula.
Gula memberi rasa manis pada teh, tapi orang menyebutnya teh manis, bukan teh gula.
Orang menyebut roti manis, bukan roti gula.
Orang menyebut sirup pandan, sirup apel, sirup jambu pada hal bahan dasarnya gula. Tapi, gula tetap ikhlas larut dalam memberi rasa manis.
Akan tetapi, apabila berhubungan dengan penyakit barulah gula disebut.
Penyakit Gula, begitulah hidup kadang kebaikan yang kita tanam, tak pernah disebut orang, tapi sedikit saja kilaf, salah dilakukan guru, maka akan dibesar-besarkan.
Ikhlaslah guru seperti gula, larutlah seperti gula. Tetap semangat memberi kebaikan. Tetap semangat menyebar kebaikan. Karena kebaikan tidak untuk disebut. Tapi untuk dirasakan.
Sedikit demi sedikit, tapi pasti, pendidikan yang baik akan secara perlahan setes demi setetes dapat membentuk karakter bangsa yang kuat dan tangguh.
Seluruh warga Negara Indonesia pasti berharap, di usia 100 tahun republik ini nantinya pada tahun 2045.
Negara Indonesia bisa menjadi salah satu kekuatan yang di segani dalam kancah percaturan dunia internasional, atau minimal bisa menjadi Macan Asia.
Semua itu bukan hanya ilusi bagi bangsa Indonesia nanti tahun 2045, bisa menjadi sebuah kenyataan, bila salah satu faktor pendukung utamanya, yaitu pendidikan yang berkualitas.
Semua orang pasti setuju jika pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk membantu seseorang mencapai kesuksesannya.
Meskipun sebenarnya pendidikan bukanlah satu-satunya hal yang menentukan keberhasilan tersebut.
Kepandaian tanpa pembentukan karakter yang baik hanya akan menghasilkan sebuah ijazah, namun tidak menghasilkan generasi yang berbudi luhur, merupakan point penting membangun peradaban bangsa yang kuat.
Guru sebagai garda terdepan harus bisa memulai berbenah, dalam memajukan peradaban sebuah bangsa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Hammaddin-Aman-Fatih-2.jpg)