Rabu, 10 Juni 2026

Kupi Senye

Guru Antara Kenyataan dan Harapan

Nasib guru bagaikan gula, tidak pernah tersebut jika meraih keberhasilan dan begitu kegagalan menyertainya, barulah mereka tersebut kata “guru”.

Tayang:
FOR TRIBUNGAYO.COM
Hammaddin Aman Fatih. 

Hasil jerih payah mereka itu tidak dapat terlihat dalam sekejap mata (Simsalabin ada kadabra langsung berubah), tapi akan nampak lima, sepuluh atau dua puluh lima tahun yang akan datang.

Saat ini lebih banyak aktivitas proses berjalan pendidikan kita lebih cenderung guru, peserta didik dan birokrasi pengelola pendidikannya berusaha mengejar target yang telah direncanakan, dibandingkan dengan memikirkan proses berlangsung pendidikan itu sendiri, sehingga kita lihat, arah pendidikan kita kehilangan rohnya.

Disatu sisi mereka (guru) dituntut untuk terus profesional dalam menjalankan tugasnya, di satu sisi lagi mereka harus sibuk dengan tengek bengek administrasi yang menguras banyak waktu, uang dan energi mereka.

Imbasnya peserta didik mereka terlantarkan dan diperparah keterlibatan mereka dengan keluarganya juga berkurang.

Penulis yakin, dengan kondisi dan budaya kesibukan guru-guru sekarang akan membatasi, membelenggu, memicikan dan mengkerdilkan inisiatif kreatifitas guru, tidak mengembangkan daya imajinasi, dan daya kreasi dan daya analisisnya.

Guru menjadi robot dan menghilangkan tugasnya sebagai penyiap agen–agen perubahan 

Ada hal yang tidak boleh hilang dalam hati seorang guru untuk mewujudkan generasi emas ; harapan, keikhlasan dan kejujuran.

Maka marilah pelihara ketiganya di hati kita (guru) dengan sentuhan  kasih sayang, cinta dan kebaikan.

Serta lakukan dengan sesungguhnya agar membuat kita guru bisa meraih sukses mendidik anak bangsa, yakni ; tekad, kemauan, dan fokus. 

Guru kita harus belajar bersyukur walaupun dalam hidupnya selalu dalam kekurangan, guru harus belajar ikhlas meskipun terasa berat untuk menghadapinya/menerimanya, guru harus belajar bersabar meski terasa terbebani.

Guru harus belajar menghargai meskipun tidak dihargai profesinya, guru harus belajar tulus meskipun tersakiti dengan kebijakan yang ada.

Guru harus belajar jujur meskipun tak dipercaya, guru harus belajar merawat meskipun dalam kondisi sakit, guru harus belajar membahagiakan meskipun kesedihan selalu menghampiri.

Guru harus belajar untuk selalu tersenyum dihadapan peserta didik meskipun tak sanggup karena bebani hidup yang di jalani.

Guru harus belajar memaafkan meskipun dalam kondisi marah. Maka guru harus terus belajar karena hidup adalah belajar (Long Life Education).

Diera digital saat ini, guru diharapkan harus menjadi pemeran utara dalam menyiapkan generasi kedepannya (Generasi Emas tahun 2045).

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved