Sabtu, 6 Juni 2026

Kupi Senye

Persoalan Kultural Pendidikan di Aceh Tengah

Namun untuk memudahkan pemetaannya, saya akan uraikan dari dua sisi pendidikan kultural, yakni keluarga dan masyarakat.

Tayang:
FOTO IST
Pemerhati Pendidikan, Dr Johansyah MA. 

Ada sebuah penelitian mandiri tentang pola penumbuhan karakter religius dalam keluarga di Kabupaten Aceh Tengah.

Salah satunya pertanyaan penelitiannya adalah apakah orangtua memiliki program yang terjadwal untuk pendidikan agama di rumah?

Misalnya mengaji setelah maghrib, membaca buku (selain PR sekolah), memperkenalkan nilai-nilai kearifan lokal, dan seterusnya?

Maka mayoritas orangtua menjawab tidak memiliki program terjadwal. Aktivitas pendidikan agama berjalan tanpa panduan khusus.

Lalu ditanyakan juga aktivitas apa yang dilakukan anak-anak mereka setelah berada di rumah?

Kebanyakan menjawab anak-anak mereka berada di kamar, dan rata-rata waktu dihabiskan untuk memengang android.

Kalau mengaji katanya sudah diajarkan di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA).

Selanjutnya ditanyakan pula pola komunikasi antara orangtua dan anak.

Apakah ada jadwal makan bersama dan upaya berkomunikasi dengan anak-anak setelah makan?

Ini juga sebagian besar menjawab jarang melakukannya, dan memberikan nasehat kepada anak setelah itu.

Sebenarnya program keluarga untuk aktivitas di rumah sangat penting dalam membangun pola pendidikan yang benar.

Terutama dalam upaya menanamkan berbagai nilai kepada anak; disiplin, tanggung jawab, tekun, jujur, dan nilai-nilai lainnya.

Dari penelitian tersebut kita mengetahui bahwa ternyata betapa rapuhnya pola pendidikan keluarga saat ini.

Bukankah hadits Nabi SAW begitu gamblang menegaskan bahwa anak itu lahir dalam keadaan fitrah (suci).

Maka orangtualah yang menjadikan anak berkarakter Yahudi, Nasrani, dan Majusi.

Sumber: TribunGayo
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved