Sabtu, 6 Juni 2026

Kupi Senye

Kiblat Zaman

Dua raka’at pertama menghadap ke Baitul Maqdis, sampai akhirnya Jibril menyampaikan wahyu pemindahan arah kiblat sebagaimana ayat di atas.

Tayang:
ISTIMEWA
OPINI TRIBUNGAYO- Dr Johansyah MA adalah Dosen STIT Al-Washliyah Aceh Tengah. Ia menulis opini tentang Kiblat Zaman, Minggu (16/2/2025). 

Oleh: Dr Johansyah MA *)

Ada beberapa peristiwa penting yang terjadi di bulan Sya’ban, yaitu perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram, diturunkannya ayat tentang perintah bershalawat.

Lailatul badr (malam badar) yakni persiapan pasukan umat Islam dalam mengadapi perang Badar, nishfu Sya’ban, diturunkannya ayat tentang perintah berpuasa, dan pada bulan ini juga diangkatnya amal manusia.

Dari beberapa peristiwa tersebut saya akan menguraikan satu saja dalam tulisan ini, yakni perubahan kiblat umat Islam.

Allah SWT berfirman; “Kami melihat wajahmu (Muhammad) menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang kamu senangi.

Maka hadapkanlah wajahmu ke Masjidil Haram. Di mana pun kamu berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arah itu.

Dan sesungguhnya orang yang diberi kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka.

Dan Allah tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan” (QS. Al-Baqarah: 144).

Dalam beberapa tafsir dijelaskan, awalnya ketika Rasulullah SAW melayat ke rumah Bisyr Bin al-Barra Bin Ma’rur dari Bani Salamah, karena ibunya meninggal dunia.

Lalu tibalah waktu shalat, dan beliau pun shalat bersama para sahabat.

Dua raka’at pertama menghadap ke Baitul Maqdis, sampai akhirnya Jibril menyampaikan wahyu pemindahan arah kiblat sebagaimana ayat di atas.

Sebelumnya Rasulullah SAW sendiri memang memohon perpindahan kiblat ini kepada Allah SWT. Di antara alasan beliau adalah karena Baitul Maqdis adalah kiblatnya orang Yahudi. 

Ada kesan di kalangan orang Yahudi, seolah-olah beliau ikut-ikutan kepada kiblat mereka, sehingga perkara ini sering menjadi bahan ejekan mereka. 

Alasan lainnya adalah karena Masjidil Haram menjadi kiblatnya nabi Ibrahim AS. Di sela itu beliau juga menginginkan umat Islam berkiblat kepada satu arah kiblat.

Lalu Allah SWT mengizinkan beliau untuk memindahkan kiblak ke Masjidil Haram di mana pun mereka berada.

Sisi Lain dari Kiblat

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved