Kupi Senye
Kiblat Zaman
Dua raka’at pertama menghadap ke Baitul Maqdis, sampai akhirnya Jibril menyampaikan wahyu pemindahan arah kiblat sebagaimana ayat di atas.
Kini ketersediaan lapangan pekerjaan semakin sulit, harga kebutuhan pokok yang tidak terkendali, bahan bakar minyak yang sering naik, pajak juga naik, dan berbagai ketimpangan sosial terjadi.
Hal ini cukup dijadikan bukti untuk menyimpulkan bahwa kita tidak berkiblat pada konsep ekonomi sebagaimana yang ditawarkan oleh Islam.
Perbankan kita memang Syari’ah, tapi dalam praktik masih banyak yang belum syar’i.
Belum banyak kita temukan perbedaan antara perbankan syari’ah dengan perbankan konfensional.
Bidang Lainnya juga Sama
Di bidang lainnya seperti budaya juga sama. Ini juga menjadi pertanyaan besar bagi kita.
Berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kita; pergaulan bebas, judi online, narkoba, pembunuhan, korupsi di pemerintahan dan lainnya, menjadi pantas juga untuk kita pertanyakan, ke mana sesungguhnya arah kiblat budaya kita?
Kalaulah kita berkiblat kepada nilai budaya Islami, tentu tidak akan banyak kasus penyimpangan seperti yang kita sebutkan tadi.
Khazanah kearifan lokal yang sarat dengan sentuhan nilai-nilai Islami ternyata tidak menjadi kiblat generasi muda kita.
Alih-alih memedomaninya, ternyata banyak hal dari nilai kearifan lokal tersebut sudah tidak mereka kenal lagi.
Mereka justru lebih mengenal budaya dan tradisi kekinian yang sebenarnya hampa nilai, tapi mereka anggap modern dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Dalam hal politik tampaknya begitu. Demokrasi tentu baik dan menjadi bagian dari ajaran Islam yang harus ditegakkan.
Tapi praktiknya di kalangan umat Islam sepertinya masih jauh dari tuntunan Islam yang sesungguhnya.
Dalam banyak hal, masyarakat Islam justru mempraktikkannya dengan cara-cara yang kotor, dan sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai demokratis dalam Islam.
Semua memang atas nama demokrasi. Tapi orang yang kita pilih ternyata bukan karena kompetensi yang mumpuni, melainkan karena materi.
Calon yang kita coblos bukan karena pertimbangan kualitas, tapi karena melirik isi tas.
| Anak-anak Kita Sedang Diburu |
|
|---|
| Bimbingan Pernikahan dan Ketahanan Keluarga Muslim: Ikhtiar Membangun Generasi Berkualitas |
|
|---|
| Dari Ruang Kelas untuk Bumi: Mengenang Enam Bulan Pascabencana Hidrometeorologi |
|
|---|
| Idul Adha Menyembelih Sifat Kebinatangan dalam Diri |
|
|---|
| Menyembelih Ego: Hikmah Terdalam dari Syiar Qurban |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/JOHANSYAH-98.jpg)