Minggu, 7 Juni 2026

Kupi Senye

Kiblat Zaman

Dua raka’at pertama menghadap ke Baitul Maqdis, sampai akhirnya Jibril menyampaikan wahyu pemindahan arah kiblat sebagaimana ayat di atas.

Tayang:
ISTIMEWA
OPINI TRIBUNGAYO- Dr Johansyah MA adalah Dosen STIT Al-Washliyah Aceh Tengah. Ia menulis opini tentang Kiblat Zaman, Minggu (16/2/2025). 

Sejak itulah umat Islam tidak lagi berkiblat ke Baitul Maqdis, tetapi ke Masjidil Haram.

Dalam konteks kekinian tentu ada sisi lain dari kiblat yang barangkali menarik untuk ditelisik.

Bahwa ketika berbicara kiblat ternyata tidak sesederhana itu juga, di mana hanya terbatas pada perkara shalat kita menghadap ke Masjidil Haram.

Bagi saya, Masjidil Haram adalah simbul kepatuhan dalam bertauhid, di mana umat Islam mengakui dengan sepenuh hati bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.

Lalu Masjidil Haram dijadikan sebagai simbol kesatuan umat karena semua orang yang shalat akan menghadap ke sana. 

Dalam makna lain, ketika umat Islam menghadap ke Masjidil Haram, itu artinya mereka siap tunduk kepada Allah SWT, berusaha melaksanakan segala perintah dan meninggalkan semua larangan-Nya.

Artinya Masjidil Haram sebagai simbol ketauhidan dan kebenaran sejati, tidak hanya dijadikan sebagai kiblat shalat semata.

Lebih dari itu seluruh aspek kehidupan manusia pada hakikatnya harus berkiblat pada kebenaran sejati yang telah tertata sedemikian rupa dalam al-Qur’an dan sebagaimana yang dijabarkan lebih rinci dan implementatif dalam hadits.

Persoalan mendasar kita saat ini adalah bahwa ternyata umat Islam belum sepenuhnya berkiblat kepada kebenaran sejati dimaksud.

Banyak dari aspek kehidupan umat ini masih berkiblat pada kebenaran-kebenaran semu yang diproduk oleh pemikiran manusia.

Sebagai umat Islam, kita patut bertanya pada diri sendiri, ke mana arah kiblat kita dalam bidang ekonomi,  politik, sosial dan aspek-aspek lainnya.

Kalaulah ekonomi berkiblat pada kebenaran sejati al-Qur’an, tentu tidak akan ada ketimpangan sosial.

Tidak mungkin ada monopoli kekayaan, di mana yang kaya semakin jaya, sementara yang miskin semakin merana.

Sekiranya ekonomi Islam dijalankan sesuai syari’at, tentu tidak akan banyak masyarakat yang melarat.

Pemerataan ekonomi akan mudah diwujudkan dan sebagian besar masyarakat hidup sejahtera.

Sumber: TribunGayo
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved