Sabtu, 6 Juni 2026

Kupi Senye

Ada Apa Dengan Sekolah Negeri?

Bahkan hingga bulan ini, ada sekolah yang calon siswa barunya belum mencapai sepuluh orang.

Tayang:
Editor: Sri Widya Rahma
Dokumen pribadi Dr Johansyah MA
DOSEN STIT AL-WASHLIYAH - Belum lama ini saya bercerita tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan beberapa teman yang bertugas di sekolah umum negeri, baik Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Ini artinya ada persoalan serius yang sedang melanda sekolah umum negeri sehingga mengalami penurunan jumlah peminat. 

Akibatnya, terjadi penumpukan guru di wilayah kota dan sekitarnya.

Di saat inilah, ketika sekolah-sekolah di beberapa wilayah kekurangan guru tentu sulit meningkatkan kualitas pelayanan pendidikannya, karena banyak sekolah yang hanya mengandalkan guru honorer.

Sementara sekolah di perkotaan terus maju dan berkembang.

Kondisi ini tentu menjadi perhatian orangtua calon siswa yang pada akhirnya lebih memilih anaknya untuk melanjutkan pendidikan
ke sekolah-sekolah favorit atau sekolah unggul di pusat kota, meski pun ada sekolah yang dekat dengan tempat tinggal mereka.

Sistem zonasi yang didesain pemerintah kemudian hanya dijelankan apa adanya.

Orangtua berdalih bahwa anak-anak mereka berhak mendapatkan pelayanan pendidikan yang lebih baik.

Bagi mereka sistem zonasi boleh diterapkan asalkan pemerintah bisa menjamin mutu sekolah di wilayah tempat dia tinggal sama dengan sekolah favorit atau minimal mendekati.

Kedua, penurunan minat ke sekolah umum negeri juga berjalin kelindan dengan semakin menjamurnya lembaga pendidikan swasta yang menawarkan program-program unggulan, baik dalam bentuk boarding school, pesantren, maupun Sekolah Islam Terpadu (SIT).

Jika diurutkan prioritas calon siswa dalam memilih lembaga pendidikan, maka di urutan pertama ada pesantren, di bawahnya SIT, lalu madrasah, baru kemudian sekolah umum negeri sebagai pilihan terakhir.

Alasan orangtua memilih melanjutkan anaknya ke pesatren secara umum adalah mereka menginginkan anak-anak mereka memiliki bekal pengetahuan keagamaan, sebab pendidikan keagamaan di pesantren lebih dominan dan mendalam.

Berbeda dengan sekolah umum yang hanya mengajarkannya secara umum saja.

Demikian halnya alasan memilih SIT, karena di sana ada beberapa program unggulan seperti tahfizh dan pola pendidikannya mirip-mirip pesantren sehingga banyak peminat.

Sisanya barulah kemudian ada yang memilih madrasah dan sekolah umum.

Selain itu juga, persoalan ini berjalin kelindan dengan pola rekrutmen Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Di mana umumnya lembaga pendidikan swasta membuka pendaftaran lebih awal, bahkan ada yang sudah memulainya sejak akhir tahun.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved