Kupi Senye
Ada Apa Dengan Sekolah Negeri?
Bahkan hingga bulan ini, ada sekolah yang calon siswa barunya belum mencapai sepuluh orang.
Di bulan oktober bahkan, spanduk dan baliho mereka sudah bertebaran di mana-mana.
Ketika pendaftaran dibuka lebih awal, terlebih lagi oleh lembaga-lembaga pendidikan yang sudah popular, tentu peserta didik yang umumnya berprestasi di sekolahnya menarget lembaga pendidikan ini.
Mereka berduyun-duyun mendaftar ke sekolah dimaksud meski pun dengan biaya yang sangat mahal asalkan bisa menempuh pendidikan di sana.
Sementara sekolah-sekolah negeri biasanya baru membuka pendaftaran PPDB paling cepat di bulan Februari, bahkan dulu baru dimuali pada bulan april.
Maka calon peserta didik yang mendaftar ke sana adalah mereka yang tidak lulus mengikuti seleksi di sekolah-sekolah unggul maupun pesantren.
Artinya sekolah umum atau minimal madrasah sebenarnya bukanlah menjadi tujuan utama mereka.
Dalam hal ini, tampaknya harus ada pola pengaturan khusus tentang waktu dimulainya penerimaan PPDB oleh pemerintah.
Sebaiknya diseragamkan saja.
Kalau memang PPDB dimulai pada bulan Desember akhir tahun, maka dibuka secara serentak.
Sementara skema PPDB yang ada saat ini, tergantung pada inisiatif lembaga masing-masing.
Artinya kalau mereka ingin membuka pendaftaran lebih cepat, mereka melakukan dengan bebas karena tidak ada aturan yang mengikat.
Harus Segera Berbenah
Terlepas dari persoalan di atas, sekolah umum sendiri tampaknya harus segera berbenah.
Secara tidak langsung, penurunan jumlah calon peserta didik sebenarnya tamparan keras bagi pemerintah, terutama dinas pendidikan.
Artinya ada kesan dalam masyarakat bahwa sekolah umum negeri tidak bermutu.
Padahal, pemerintah menyiapkan segala halnya untuk itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Dosen-STIT-Al-Washliyah-Aceh-Tengah.jpg)