Kupi Senye
Tradisi Membangunkan Orang Sahur
Sebagai sebuah cara untuk mengingatkan warga yang pulas tidur agar mereka tidak lupa bangun sahur, ini adalah sesuatu yang positif.
Oleh: Dr Johansyah MA *)
Membangunkan orang untuk makan sahur adalah salah satu tradisi pada bulan suci Ramadhan di Indonesia. Masing-masing daerah melakukannya dengan cara yang berbeda.
Sebagian ada yang melakukannya dengan memukul kentongan sambil berkeliling kampung, menabuh bedug, dan sebagainya. Seiring dengan perkembangan teknologi, saat ini sudah banyak pula yang melakukannya dengan pengeras suara di masjid maupun menasah.
Sebagai sebuah cara untuk mengingatkan warga yang pulas tidur agar mereka tidak lupa bangun sahur, ini adalah sesuatu yang positif.
Namun terkadang tradisi ini memunculkan persoalan baru, di mana banyak orang yang merasa terganggu dengan beberapa cara yang dianggap berlebihan.
Bisa jadi karena waktunya terlalu cepat, terlalu keras, atau terlalu ramai dan seterusnya tanpa mempertimbangkan kondisi tertentu warga sekitarnya.
Sekiranya dilihat dari sudut pandang historis, persisnya di masa Rasulullah SAW, berdasarkan beberapa hadits bahwa cara yang dilakukan untuk membangunkan orang sahur pada waktu itu adalah dengan mengumandangkan adzan dua kali.
Rasulullah SAW memerintahkan Bilal Bin Rabah untuk mengumandangkan azan pertama sebelum terbitnya fajar shadiq.
Setelah Bilal adzan, lalu dia berzikir beberapa saat hingga turun dari menara dan memberitahu Abdullah Bin Umi Maktum yang tidak bisa melihat, untuk segera mengumandangkan azan kedua sebagai penanda tibanya waktu shalat shubuh.
Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan di malam hari sebelum subuh, maka makan dan minumlah kalian sehingga Abdullah Bin Umi Maktum mengumandangkan adzan (HR Muslim).
Hadits di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwa untuk membangunkan orang sahur pada masa Rasulullah SAW adalah dengan mengumandangkan adzan pertama.
Selain itu tujuan lainnya adalah seruan untuk mendirikan shalat malam bagi mereka yang ingin melaksanakannya.
Lain Lubuk Lain Pula Ikannya
Seperti pepatah katakan; ‘lain lubuk lain pula ikannya’. Lain wilayah berbeda pula tradisinya.
Di Indonesia, tradisi membangunkan sahur ini tentu juga memiliki khas tersendiri yang merupakan perwujudan lain dari azan pertama pada masa Rasulullah SAW untuk membangunkan orang sahur dengan memukul kentongan keliling kampung sambil berteriak; sahur! sahur! sahur!
Di Kalimantan ada tradisi bagarakan sahur. Di Jakarta ada istilah ngarak beduk. Sementara di Aceh banyak yang membangunkan sahur melalu pengeras suara dengan mendendangkan shalawat Islami maupun sya’er Aceh.
| Menyembelih Ego: Hikmah Terdalam dari Syiar Qurban |
|
|---|
| Zulhijjah: Antara Puasa Arafah dan Euforia Meugang |
|
|---|
| Aceh dan Sinyal Kemunduran: Ketika Kekhususan Kehilangan Ruhnya |
|
|---|
| Implementasi Kurikulum Merdeka untuk Membentuk Karakter Religius Siswa di SMAN 15 Takengon |
|
|---|
| Jangan Sentuh Harta Wakaf: Kutukan Sejarah bagi Mereka yang Mengkhianati Amanah Umat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Dr-Johansyah-MA.jpg)