Minggu, 7 Juni 2026

Kupi Senye

Tradisi Membangunkan Orang Sahur

Sebagai sebuah cara untuk mengingatkan warga yang pulas tidur agar mereka tidak lupa bangun sahur, ini adalah sesuatu yang positif.

Tayang:
Editor: Sri Widya Rahma
Dokumen Pribadi/Dr Johansyah MA
KUPI SENYE - Dr Johansyah adalah Dosen STIT Al-Washliyah Aceh Tengah. Membangunkan orang untuk makan sahur adalah salah satu tradisi pada bulan suci Ramadhan di Indonesia. Masing-masing daerah melakukannya dengan cara yang berbeda. 

Di beberapa tempat ada juga sekelompok pemuda yang membuat peralatan musik dari barang bekas, seperti panci, derum, botol akua, dan barang bekas lainnya yang dapat menghasilkan suara.

Seperti layaknya kelompok band, mereka memainkan itu dengan penuh kekompakan berkeliling kampung sambil
menyalakan obor.

Selain beberapa tradisi di atas, ada juga beberapa masjid yang tetap mempertahankan tradisi era Rasulullah SAW, yakni mengumandangkan azan pertama sebelum subuh.

Di tempat saya, ada beberapa masjid yang melakukannya seperti ini.

Penduduk di sekitar wilayah tersebut sudah memahami betul bahwa adzan yang dikumandangkan tersebut adalah adzan untuk membangunkan orang untuk sahur.

Seiring dengan perkembangan teknologi, terlebih hampir semua orang memiliki android.

Ada jam alarm di sana sebagai penanda waktu yang dapat disetel sesuai keinginan.

Dari itu, mungkin kita perlu bertanya; masihkah tradisi membangunkan sahur dengan pengeras suara atau berkeliling kampung itu
diperlukan?

Dari fungsinya mungkin sudah kurang relevan, karena tanpa dibangunkan umumnya orang sudah memiliki jam alarm di androidnya tadi.

Namun dari aspek syi’ar, tradisi ini patut dilestarikan dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai wujud antusiasme umat Islam dalam menyambut dan menyemarakkan Ramadhan yang hanya satu tahun sekali ini.

Meski demikian, terkadang sebuah pekerjaan yang pada hakikatnya didasarkan atas niat baik, bisa menjadi masalah ketika ditempuh dengan cara yang salah.

Di mana tradisi membangunkan orang untuk sahur terkadang kerap dianggap mengganggu.

Padahal tradisi atau bahasa lainnya adat seharusnya mengandung nilai-nilai adab.

Atau dengan ungkapan lain bahwa adat itu sejatinya beradab.

Harus Banyak Pertimbangan

Banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam melaksanakan tradisi ini.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved