Minggu, 7 Juni 2026

Kupi Senye

Tradisi Membangunkan Orang Sahur

Sebagai sebuah cara untuk mengingatkan warga yang pulas tidur agar mereka tidak lupa bangun sahur, ini adalah sesuatu yang positif.

Tayang:
Editor: Sri Widya Rahma
Dokumen Pribadi/Dr Johansyah MA
KUPI SENYE - Dr Johansyah adalah Dosen STIT Al-Washliyah Aceh Tengah. Membangunkan orang untuk makan sahur adalah salah satu tradisi pada bulan suci Ramadhan di Indonesia. Masing-masing daerah melakukannya dengan cara yang berbeda. 

Misalnya pertimbangan kenyamanan orang yang beristirahat.

Ada sebagian masyarakat dengan pekerjaan tertentu di mana mereka baru bisa beristirahat di atas jam 12 malam.

Ketika baru terlelap tidur, tiba-tiba ada suara keras yang membuatnya terbangun, padahal waktu sahur sebenarnya masih lama.

Nah, sebagian orang kalau sudah terbangun, tidak bisa lagi tidur.

Maka secara tidak sadar, kita sudah merampas hak beristirahat orang tersebut.

Dalam kasus lain lagi misalnya ada orang yang sedang sakit, Penyakitnya itu sering kumat di malam hari.

Dia baru bisa tidur menjelang pagi. Begitu baru terlelap tidur, tiba-tiba dikagetkan dengan suara yang sangat keras. Akhirnya dia tidak bisa melanjutkan istirahatnya.

Bahkan jangankan bagi orang yang sakit, orang yang sehat saja kemungkinan banyak yang merasa terganggu.

Dalam sebuah hadits ditegaskan; “makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur itu terdapat keberkahan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Artinya membangunkan orang sahur sama dengan mengajak orang untuk menjemput keberkahan, jangan sampai mereka melewatkannya.

Tapi karena cara yang dilakukan kurang mempertimbangkan aspek kenyamanan orang lain, akhirnya menimbulkan masalah bukan maslahah (kemaslahatan).

Bukan mendatangkan manfaat, tapi justru mengundang mudharat.

Dari itu, meski pun tradisi ini patut dipertahankan, tapi di masing-masing wilayah sebaiknya aparatur desa perlu mengatur aktivitas ini sehingga dapat berjalan sesuai harapan, tidak mengganggu, dan sekaligus sebagai upaya sebagai upaya pelestarian tradisi.

Sebaiknya ada himbauan kapan dan jam berapa membangunkan orang sahur, serta alat apa yang cocok digunakan agar tidak menimbulkan suara brisik yang tidak nyaman di telinga.

Dalam satu mahfuzhat dikatakan bahwa ‘hak saudaramu atas dirimu sama dengan hakmu atas dirinya’. Maknanya adalah ketika kita menuntut kenyamanan dari orang lain, dia juga sama menuntut kenyamanan dari kita.

Akhirnya uraian ini saya tutup dengan sebuah hadits;

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya” (HR Bukhari). Wallahu A’lam
Bishawab!

*) Penulis adalah Dosen STIT Al-Washliyah Aceh Tengah.

KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

 

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved