Kupi Senye
Durian Runtuh? Mualem Melanggeng di 2029
Seolah-olah, ketika semua tokoh politik sibuk rebutan panggung dan mikrofon alat kekuasaan, Mualem memilih jalan sunyi tapi tembus ke Jakarta.
Oleh: Rizki Rahayu Fitri *)
Empat pulau akhirnya resmi diumumkan menjadi milik Aceh. Euforia meledak. Dari Meulaboh hingga Pulo Aceh, rakyat bersorak seolah menang laga final Piala Dunia.
Tapi bukan hanya soal batas wilayah atau kedaulatan laut, ini tentang kebanggaan kolektif rasa memiliki yang selama ini seperti disimpan dalam lemari penuh debu.
Rakyat Aceh puas. Minimal untuk hari ini. Momen ini menjadi vitamin nasionalisme lokal yang sudah lama kekurangan asupan.
Tapi jangan buru-buru tepuk tangan terlalu keras. Karena seperti biasa, sorotan tajam pun beralih ke arah pemerintahan Aceh.
Ya, pemerintah yang sampai hari ini tampaknya masih kejar-kejaran dengan tugas regulasi, terutama dalam mengatur batas wilayah secara konkrit di bawah bayang-bayang Undang-Undang Pemerintahan Aceh Tahun 2006.
Empat pulau baru saja diakui, tapi Perda soal batas daratan saja masih berkutat di meja rapat dengan seribu lampiran.
Eitss.. jangan lupa pulaunya di berdayakan ya, ntar di ambil lagi lho…
Namun yang lebih mengejutkan, dari balik semua hingar-bingar itu, muncul satu nama yang selama ini seperti sedang berpuasa bicara: Muzakir Manaf alias Mualem.
Figur yang dalam dunia politik Aceh akhir-akhir ini dikenal lebih banyak diam. Diam yang dulu disangka beku, kini disebut emas
murni 24 karat.
Netizen langsung ambil alih narasi: “Mualem sedang menjalankan strategi diam berisi.” Dan ya, hari ini banyak orang percaya: diamnya Mualem ternyata berdiplomasi.
Seolah-olah, ketika semua tokoh politik sibuk rebutan panggung dan mikrofon alat kekuasaan, Mualem memilih jalan sunyi tapi tembus ke Jakarta.
Netizen menyebutnya pendekar politik Aceh yang mampu menjatuhkan "kekuasaan geng Solo" hanya dengan gerak-gerik minimalis.
Bahkan di dunia maya, diam beliau disebut sebagai "politik ninja". Tak tampak, tapi meninggalkan bekas.
Kita boleh tertawa, tapi fakta ini cukup menohok. Sebab ketika banyak pihak berspekulasi tentang siapa yang menjadi dalang dari keberhasilan ini, publik malah menyuguhkan satu narasi tunggal: ini kemenangan Mualem.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/RIZKI-RAHAYU-FITRI02.jpg)