Sabtu, 9 Mei 2026

Kupi Senye

Durian Runtuh? Mualem Melanggeng di 2029

Seolah-olah, ketika semua tokoh politik sibuk rebutan panggung dan mikrofon alat kekuasaan, Mualem memilih jalan sunyi tapi tembus ke Jakarta.

Tayang:
Editor: Sri Widya Rahma
Dokumen Pribadi/Rizki Rahayu Fitri
KUPI SENYE - Rizki Rahayu Fitri adalah seorang Mahasiswa Hukum asal Aceh. 

Di mana simbol- simbol perjuangan hanya dijadikan panggung, bukan peta jalan. Empat pulau bukan akhir. Ini seharusnya awal untuk menyusun ulang struktur pengelolaan sumber daya laut, memperbaiki perbatasan darat, dan menyusun strategi ekonomi maritim.

Tapi sayangnya, yang lebih heboh justru akun-akun medsos dan perang komentar soal siapa yang paling berjasa.

Tak bisa kita pungkiri, di balik semua polemik dan skeptisisme, Mualem tetaplah simbol kuat bagi sebagian rakyat Aceh seorang mantan pejuang yang berhasil bertahan di tengah derasnya ombak politik dan tetap tampil sebagai sosok yang dipercaya, walau dengan kalimat-kalimat yang kadang lebih terasa seperti kode Morse.

Ia mungkin bukan orator hebat seperti tokoh nasional lainnya, tapi justru itulah kekuatannya. Keheningan beliau berbicara lebih lantang daripada mereka yang kebanyakan bicara tapi kosong isi.

Toh, dalam politik Aceh, kadang kemampuan bicara bukanlah segalanya. Yang penting adalah kemampuan membaca situasi, dan tampaknya Mualem cukup mahir membaca arah angin.

Hanya saja, kita berharap beliau tak sekadar pandai membaca, tapi juga berani menulis bab baru untuk Aceh yang lebih transparan dan adil tanpa perlu menulisnya lewat pena keluarga atau tinta dinasti.

Dengan momentum ini, tak berlebihan jika publik mulai berspekulasi bahwa Mualem sedang mempersiapkan jalur mulus menuju 2029.

Popularitasnya yang kembali naik, ditambah aura “pahlawan empat pulau”, menjadi bahan bakar politik yang sangat premium.

Tapi tentu, popularitas bukan jaminan kemajuan, apalagi kalau hanya digunakan untuk merawat simbol, bukan memperjuangkan substansi.

Untuk itu, kita titipkan satu pesan kecil yang tak seberapa, tapi cukup menggelegar kalau diseriusi: Aceh butuh pembangunan nyata. Pemerataan wilayah dari pesisir ke pegunungan, dari barat ke timur, bukan cuma baliho dan jargon.

Jika Mualem memang ingin dikenang lebih dari sekadar ikon kombatan, maka dorongan terhadap pembangunan nasional yang bersinergi dan serius mengangkat wajah Aceh ke arah kota metropolitan yang layak ditiru, harus menjadi prioritas, kepada Mualem; bantu suarakan potensi ekonomi wisata di Aceh agar Aceh tidak melulu dikira daerah premitif dan masih perang.

Cukuplah kita jadi penonton pembangunan dari balik berita Jakarta. Kini saatnya Aceh jadi panggung bukan pelengkap lakon.

Dan untuk Mualem, selamat atas durian runtuhnya. Tapi ingat, durian itu berduri. Salah potong, bisa kena tangan sendiri.

*) Penulis adalah Mahasiswa Hukum asal Aceh. 

KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved