Kupi Senye
Durian Runtuh? Mualem Melanggeng di 2029
Seolah-olah, ketika semua tokoh politik sibuk rebutan panggung dan mikrofon alat kekuasaan, Mualem memilih jalan sunyi tapi tembus ke Jakarta.
Dan bukan kemenangan biasa. Ini seperti durian runtuh, tapi bukan sembarang jatuh ini durian yang jatuh ke tangan tepat pada waktunya menjelang kontestasi politik mendatang.
Sayangnya, kita tidak lupa sejarah. Sebagian dari kita tentu masih ingat ketika Mualem menjabat sebagai Wakil Gubernur Aceh.
Banyak aspirasi rakyat yang seperti dilempar ke gua, masuk tak kembali. Banyak janji politik yang hanya sampai di baliho.
Lalu hari ini, dengan satu pencapaian yang sebenarnya hasil kolektif diplomasi antara kementerian dan lembaga pusat Mualem kembali dielu-elukan.
Ini seperti menonton film lama dengan efek suara baru. Maka muncullah skeptisisme wajar dari rakyat Aceh. Di satu sisi, pengakuan empat pulau ini menyatukan rakyat dalam semangat kolektif membela kedaulatan.
Di sisi lain, banyak pula yang tak lupa soal dinasti politik yang mulai tercium tajam: istri Mualem tiba-tiba muncul sebagai PAW
anggota dewan.
Rakyat Aceh tidak sebodoh itu untuk lupa bahwa demokrasi yang baik bukan hanya soal siapa yang menang, tapi juga bagaimana dia
menang dan siapa yang ikut duduk di belakangnya.
Lalu apa artinya semua ini bagi Partai Aceh? Satu kata: reinkarnasi. Setelah sempat terpecah belah oleh konflik internal dan kehilangan pesona seperti awal perdamaian Helsinki dulu, hari ini Partai Aceh seperti dapat karpet terbang.
Polarisasi rakyat Aceh yang sempat meragukan partai ini, mendadak kembali memberi ruang. Semua karena narasi pulau, dan potongan-potongan orasi Mualem yang viral di medsos yang sebenarnya tidak utuh, tapi justru itu yang membuatnya menyentuh dan kembali menjadi pengaruh.
Di tengah kekecewaan publik pada partai-partai nasional yang kerap bermain kasar di Jakarta, narasi Partai Aceh justru terasa seperti air segar meski kita tahu, itu air yang diisi ulang dari galon lama.
Tapi tak bisa dipungkiri, momentum ini dimanfaatkan dengan baik. Partai Aceh tak perlu bicara banyak. Empat pulau sudah cukup untuk mengisi seribu baliho dan seribu khutbah kampanye ke depan.
Apakah ini pertanda Partai Aceh akan mengirim pasukan lebih besar ke DPRA 2029? Sangat mungkin.
Bahkan bisa jadi lebih besar dari sebelumnya, karena rakyat sedang dalam fase “emotional rebound” terpukau oleh satu keberhasilan yang menggugah semangat Aceh Raya.
Namun tetap saja, bagi sebagian orang yang masih berpikir jernih, semua ini hanya permen rasa kemenangan. Enak di awal, tapi cepat lumernya.
Kenapa? Karena rakyat tahu, di balik permainan ini, ada aroma permainan yang biasa mereka cium di kancah nasional.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/RIZKI-RAHAYU-FITRI02.jpg)