Rabu, 29 April 2026

Kupi Senye

Fenomena Cognitive Dissonance pada Korban Pelecehan Seksual yang Dilakukan oleh Orang Terdekat

Dalam konteks pelecehan seksual, terutama yang dilakukan oleh sosok yang dipercaya, disonansi ini bisa menjadi sangat kompleks.

Tayang:
FOTO IST
OPINI TRIBUN GAYO - Liza Sera S Psi merupakan Guru Bimbingan Konseling di SMA Muhammadiyah Gayo Lues dan Alumni Psikologi UIN AR-Raniry Banda Aceh 2020. Ia menulis opini tentang 'Ketika Otak Menolak Percaya: Fenomena Cognitive Dissonance pada Korban Pelecehan Seksual yang Dilakukan oleh Orang Terdekat', Sabtu (22/11/2025). 

Dunia yang tadinya penuh kegembiraan mulai retak. Disatu sisi, korban tahu bahwa yang terjadi adalah salah. Tubuhnya menolak, hatinya menjerit.

Tetapi pikirannya berusaha untuk menutupi dengan berbagai alasan.

“Mungkin dia hanya bercanda,” mungkin aku salah paham, atau “dia kan orang baik baik tidak mungkin berniat buruk.

Bagaimana Cognitive Dissonance Bekerja?

Cognitive dissonance bekerja, memecah pikiran korban menjadi dua bagian yang saling bertarung.

Satu sisi korban memiliki keyakinan pelaku adalah orang baik, pelaku tidak mungkin melakukan hal tersebut, pelaku adalah keluarga sendiri.

Namun pengalaman pelecehan membawa pesan tersendiri antara lain pelaku menyentuh korban dengan
ancaman, korban merasa takut dan tidak nyaman.

Bagi sebagian situasi, korban merasa ketergantungan emosional atau ekonomi pada pelaku baik secara finansial dan sosial.

Sehingga ketergantungan ini membuat korban sulit mengakui kebenaran yang merusak stabilitas hidup korban.

Kemudian masyarakat sering menyalahkan korban dan membuat korban berpikiran seperti.

"Kalau aku cerita semua akan hancur”. Perasaan ini membuat otak berusaha mencari narasi yang lebih aman walaupun tidak benar.

Sehingga benturan antara keyakinan dan realitas ini menimbulkan disonansi yang menyakitkan.

Bagaimana Bentuk Cognitive Dissonance pada Korban?

Beberapa bentuk pemikiran atau perilaku yang timbul dari korban pelecehan seksual, membentuk reaksi psikologis.

Antara lain korban merasionalisasikan perilaku pelaku, menyalahkan diri sendiri, korban memiliki fikiran merasa korban bersalah karna tidak menjauh. 

Kemudian korban menganggap kejadian bukan masalah besar, menolak cerita kepada orang lain, korban memiliki pikiran seandainya bercerita kepada orang lain, maka keluarga akan berantakan.

Terakhir korban akan tetap mempertahankan hubungan dengan pelaku, bukan karena korban tidak sadar.

Sumber: TribunGayo
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved