Rabu, 6 Mei 2026

Kupi Senye

Fenomena Cognitive Dissonance pada Korban Pelecehan Seksual yang Dilakukan oleh Orang Terdekat

Dalam konteks pelecehan seksual, terutama yang dilakukan oleh sosok yang dipercaya, disonansi ini bisa menjadi sangat kompleks.

Tayang:
FOTO IST
OPINI TRIBUN GAYO - Liza Sera S Psi merupakan Guru Bimbingan Konseling di SMA Muhammadiyah Gayo Lues dan Alumni Psikologi UIN AR-Raniry Banda Aceh 2020. Ia menulis opini tentang 'Ketika Otak Menolak Percaya: Fenomena Cognitive Dissonance pada Korban Pelecehan Seksual yang Dilakukan oleh Orang Terdekat', Sabtu (22/11/2025). 

Tetapi karena hubungan itu menyimpan sejarah panjang yang sulit dibuang begitu saja. 

Dari beberapa bentuk perilaku yang timbul dari korban, tentu akan membawa dampak buruk bagi psikologis korban.

Korban cenderung mengalami kecemasan dan tekanan yang berkepanjangan, depresi, ketakutan pada relasi
baru.

Kemudian kehilangan kepercayaan diri, luka berlapis (trauma, kebingungan identitas, serta kehilangan support system. 

Inilah mengapa pelecehan oleh orang terdekat sering lebih mematikan secara emosional dibanding pelaku asing.

Bagaimana Korban Dapat Mengurangi Cognitive Dissonance pada Kasus Pelecehan Seksual yang dilakukan oleh Orang Terdekat?

Hal terpenting yang dapat dilakukan oleh korban adalah mengakui apa yang dialami adalah salah.

Pengakuan internal adalah langkah awal untuk memutus disonansi, mendapat validasi dari lingkungan aman.

Konseling dengan ahli (psikolog), membangun batasan yang tegas dengan pelaku.

Kemudian lingkungan sering menjadi faktor penentu apakah disonansi korban berkurang atau justru semakin mempeburuk trauma.

Korban akan lebih baik jika lingkungan tidak menyalahkan korban, tidak memaksa korban untuk memaafkan,

Tidak menutup kasus demi nama baik keluarga, memberikan tempat aman untuk bersuara, menghormati proses pemulihan korban

Karena pada dasarmya cognitive dissonance bukan kelemahan korban.

Ia adalah mekanisme bertahan hidup yang terbentuk ketika seseorang harus berhadapan dengan kenyataan yang terlalu menyakitkan.

Ditengah maraknya kasus pelecehan seksual orang terdekat yang terjadi pada era sekarang ini, memahami cognitive dissonance bukan hanya kajian psikologi.

Tetapi kebutuhan sosial untuk memastikan korban mampu pulih tanpa harus berjalan sendirian. (*)

*) Penulis adalah Guru Bimbingan Konseling di SMA Muhammadiyah Gayo Lues dan Alumni Psikologi UIN AR-Raniry Banda Aceh 2020.

KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca juga: Kasus Ayah Nodai Anak Kandung di Gayo Lues, Ini Tanggapan Aktivis Perempuan

 

Sumber: TribunGayo
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved