Kupi Senye
Menimbang Trauma Healing Ditengah Luka yang Belum Pulih
Menghadirkan pacuan kuda sebagai medium trauma healing patut dikritisi secara jernih.
“Tidak beriman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, menghadirkan kegembiraan di tengah duka yang belum selesai harus diuji dengan satu pertanyaan sederhana:
Apakah kita sudah merasakan apa yang mereka rasakan? Ekonomi Bangkit, Tapi untuk Siapa?
Argumen kedua yang diajukan adalah kebangkitan UMKM. Ini tentu penting dan layak didukung.
Namun perlu kejujuran:
apakah seluruh lapisan masyarakat terdampak akan merasakan manfaat ekonomi tersebut?
Pengalaman menunjukkan, event seperti ini seringkali lebih menguntungkan pelaku usaha yang sudah siap.
Sementara korban terdampak berat justru belum punya daya untuk ikut serta.
Jika demikian, maka yang terjadi bukan pemerataan pemulihan, melainkan ketimpangan dalam momentum kebangkitan.
Pemulihan ekonomi yang berkeadilan seharusnya dimulai dari:
- mereka yang paling terdampak,
- yang kehilangan mata pencaharian,
- yang masih berjuang dari titik nol.
Prioritas: Luka Disembuhkan, Bukan Ditutupi
Dengan anggaran sekitar Rp480 juta, publik wajar berharap setiap rupiah diarahkan pada kebutuhan paling mendesak.
Ditengah kondisi saat ini, pilihan kebijakan menjadi sangat moral sifatnya:
Apakah kita ingin terlihat pulih, atau benar-benar pulih?
Menunda bukan berarti menolak. Mengkritisi bukan berarti menghambat.
Justru di sinilah letak tanggung jawab bersama agar kebijakan tidak sekadar tepat secara administratif, tetapi juga tepat secara nurani.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Mahbub-Fauzie-Kepala-KUA-Kecamatan-Atu-Lintang-Aceh-Tengah-1.jpg)