Kupi Senye
Menimbang Trauma Healing Ditengah Luka yang Belum Pulih
Menghadirkan pacuan kuda sebagai medium trauma healing patut dikritisi secara jernih.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)
Namun kemudahan itu tidak datang dari euforia, melainkan dari kesabaran, ketepatan langkah, dan keberpihakan pada yang paling membutuhkan.
Menjaga Marwah Kepedulian
Aceh Tengah dikenal dengan kearifan lokal dan religiusitas yang kuat. Dalam tradisi kita, kepedulian bukan hanya nilai ia adalah identitas.
Karena itu, kebijakan publik seharusnya tidak hanya diukur dari niat baik, tetapi juga dari:
- sensitivitas sosial,
- ketepatan waktu,
- dan keberpihakan yang nyata.
Pacuan kuda tetaplah bagian dari budaya dan kebanggaan daerah. Ia bisa menjadi simbol kebangkitan jika ditempatkan pada waktu yang tepat.
Tetapi ketika luka masih terbuka, maka yang lebih dibutuhkan bukanlah perayaan, melainkan kehadiran.
Bukan keramaian, tetapi kepedulian.
Sebab pada akhirnya, pemulihan sejati bukan tentang mengalihkan perhatian dari luka, tetapi memastikan luka itu benar-benar pulih.
*) Penulis adalah warga Aceh Tengah, salah seorang Relawan Tanpa Batas Jagong Jeget Peduli.
Baca juga: BNPB Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca, Antisipasi Bencana Hidrometeorologi di Aceh Tengah
Baca juga: Refleksi Bencana Alam di Tanah Gayo
Baca juga: Bener Meriah Siaga Bencana Hidrometeorologi, Warga Diminta Waspadai Cuaca Ekstrem
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Mahbub-Fauzie-Kepala-KUA-Kecamatan-Atu-Lintang-Aceh-Tengah-1.jpg)