Jumat, 22 Mei 2026

Kupi Senye

Zulhijjah: Antara Puasa Arafah dan Euforia Meugang

Dalam hadis riwayat Bukhari, Nabi menegaskan bahwa tidak ada hari dimana amal saleh lebih dicintai Allah dibanding sepuluh hari pertama Zulhijjah.

Tayang:
ISTIMEWA
OPINI TRIBUN GAYO - Zakiul Fuady Muhammad Daud adalah Dosen IAIN Takengon. Ia menulis opini berjudul 'Zulhijjah: Antara Puasa Arafah dan Euforia Meugang', Kamis (21/5/2026). 

Kita kadang lupa bahwa terlalu sibuk dengan makanan juga dapat mematikan kepekaan ruhani. Perut terlalu kenyang sering membuat hati sulit khusyuk. 

Meja makan terlalu ramai terkadang membuat zikir menjadi sepi. Yang lebih menyedihkan lagi, ada orang yang begitu semangat memasak daging, tetapi tidak tahu kapan puasa Arafah dimulai.

Ada yang sibuk mencari bumbu terbaik, tetapi tidak pernah serius mencari keutamaan hari-hari terbaik di sisi Allah. Ini bukan sekadar soal tradisi, tetapi soal prioritas spiritual umat.

Islam sesungguhnya mengajarkan keseimbangan. Bergembira boleh. Memasak untuk keluarga boleh.

Menyambut Iduladha dengan suka cita juga bagian dari syiar. Tetapi jangan sampai kebahagiaan fisik membunuh kesadaran ruhani.

Jangan sampai dapur lebih hidup daripada hati. Maka sudah saatnya masyarakat Muslim menghidupkan kembali ruh sepuluh awal Zulhijjah

Hidupkan malamnya dengan doa. Hidupkan siangnya dengan puasa. Perbanyak takbir, istighfar, sedekah, dan membaca Al-Qur’an.

Ajarkan anak-anak bahwa kemuliaan Zulhijjah bukan pada banyaknya daging yang dimakan, tetapi pada banyaknya dosa yang diampuni Allah.

Sebab boleh jadi, inilah Zulhijjah terakhir dalam hidup kita.

Boleh jadi, tahun depan kita bukan lagi orang yang sibuk memasak di dapur, tetapi sudah menjadi nama yang disebut dalam doa keluarga. 

Dan ketika ajal datang, yang akan menyelamatkan manusia bukan aroma masakan yang pernah ia nikmati, tetapi amal-amal ikhlas yang pernah ia hidupkan. 

Karena itu, sebelum gema takbir Iduladha memenuhi langit, mari bertanya kepada diri sendiri dengan jujur.

Di sepuluh hari paling mulia ini, apakah kita sedang mendekat kepada Allah, atau justru semakin sibuk memuaskan hawa nafsu kita sendiri?

*) Penulis adalah Dosen IAIN Takengon, Kabupaten Aceh Tengah.

KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca juga: Jangan Nekat! Ini Sanksi Berat Arab Saudi untuk Jemaah Haji Ilegal

Baca juga: Menjelang Puncak Haji, Jamaah Mulai Berangkat ke Arafah 25 Mei 2026

Baca juga: Musim Haji 2026: Jemaah Aceh Terima Dana Wakaf Baitul Asyi Rp 9,2 Juta per Orang

Sumber: TribunGayo
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved