Kupi Senye
Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi tahun 2023 dengan angka 5,6 persen merupakan pertumbuhan ekonomi kedua tertinggi di Aceh setelah Nagan Raya.
Bila keberhasilan menjaga angka inflasi bulanan pada Januari, Maret, dan April bisa terus dijaga oleh pemerintah daerah maka Inflasi Tahunan 2024 pada Desember nanti diharapkan dapat dikendalikan normal.
Strategi penanganan inflasi pada triwulan 1 tahun 2024 yang telah terbukti jitu inilah yang harus terus dilakukan oleh pemerintah daerah hingga akhir tahun.
Strategi Penanganan Inflasi
Inflasi terjadi disebabkan karena ketidakseimbangan antara stok/barang yang dijual dengan permintaan/kebutuhan dari masyarakat.
Ketika stok menipis karena faktor musiman seperti belum musim panen, banjir, longsor dan sejenisnya maka harga menjadi mahal.
Demikian juga bila kebutuhan masyarakat meningkat seperti ramadhan, lebaran, dan liburan maka juga akan terjadi kenaikan harga barang/jasa.
Oleh karena itu Pemda harus memastikan stok tercukupi sepanjang tahun.
Ada 9 langkah pengendalian inflasi yang telah ditetapkan oleh Mendagri sebagai acuan pemda, yaitu (1) Pemantauan harga, (2) Rapat teknis, (3) Menjaga pasokan, (4) Gerakan Menanam Serentak.
(5) Operasi Pasar Murah, (6) Sidak Pasar, (7) Kerjasama Antar Daerah, (8) Belanja Tak Terduga untuk mengendalikan inflasi, dan (9) Bantuan Transportasi untuk ongkos angkut.
Dari semua intruksi Mendagri tersebut, 7 langkah telah dilakukan Pemda Aceh Tengah sejak tahun 2023 lalu, yaitu langkah 1 hingga 7.
Pemda juga sedang mempersiapkan implementasi langkah 8 dan 9 untuk kedepannya. Diharapkan hal ini dapat menjaga inflasi tahunan Aceh Tengah 2024 pada Desember nanti berada di bawah angka 4 persen.
Selain intruksi mendagri tersebut, beberapa daerah melakukan inovasi lain seperti urban farming dan mobil inflasi menyasar warga terpencil (di Samarinda); Gerakan Tanam Sayur Mayur (Gertas), Gerakan Memelihara Ternak Unggas (Gemar Tugas).
Gerakan Pengembangan Perikanan Rakyat (Gerbang Perak), dan Pulau Buah (di Banyuasin); pelibatan badan usaha, mengefektifkan komponen zakat, dan gerakan menanam dengan mengoptimalkan ibu PKK (di Banten); serta Toko Tani Indonesia Center (TTIC).
Pelaksanaan outlet pemasaran ikan segar, Lapau tani, program bajak sawah gratis, pemanfaatan pekarangan, desa mandiri pangan, lumbung pangan masyarakat, pengembangan teknologi padi salibu, dan asuransi usaha tani padi dan asuransi usaha ternak sapi kerbau (di Tanah Datar).
Semakin banyak hal yang dilakukan tentu akan semakin mengendalikan inflasi. Akan tetapi hal yang juga harus diingat adalah seberapa banyak sumber daya yang dimiliki.
Sumber daya dapat berupa Anggaran yang tersedia, Pegawai yang dapat melaksanakan, serta Waktu kegiatan apakah tepat atau sangat sempit.
Yang juga tidak kalah penting adalah kesiapan masyarakat Aceh Tengah sendiri untuk menghadapi inflasi. Yaitu dengan memanfaatkan iklim pegunungan dan juga tanah yang subur.
Setiap rumah tangga menanam sendiri komoditas yang fluktuatif harganya seperti cabai, bawang, tomat dan sayuran di pekarangan.
Sehingga harga komoditas hortikultura yang tinggi tetap dapat dinikmati petani dan menggerakkan pertumbuhan ekonomi, namun masyarakat pun tidak terpengaruh dengan angka inflasi.
*) Penulis adalah Kepala BPS Kabupaten Aceh Tengah
KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca juga: PJ Gubernur Aceh Jamin Tamu PON XXI Aceh-Sumut 2024 Nyaman
Baca juga: Wakil Ketua DPRK Gayo Lues: Penanganan Longsor Lambat Jalan Nasional Masih Lumpuh Total
Baca juga: Profil Armia Bakal Calon Wakil Bupati Bener Meriah 2024 dari Jalur Independen
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/KEPALA-BPS-ACEH-TENGAH-Nuri-Rosmika.jpg)