Kupi Senye
Warkop Mei Baru di Peunayong
Ada sebuah tempat minum kopi di Peunayong yang masih tetap mempertahankan tradisionalitasnya tapi dengan rasa kopi yang dapat merindukan
Oleh: Dr Teuku Taufiqulhadi *)
Ketika kian menjamur cafe (setidaknya demikian penamaannya agar terdengar megah dan globalis) di Banda Aceh.
Ada sebuah tempat minum kopi di Peunayong yang masih tetap mempertahankan tradisionalitasnya tapi dengan rasa kopi yang dapat merindukan: Warung Kopi "Mei Baru".
Suatu pagi Minggu ketika ngelayapan mencari bu guri (nasi gurih), kami tiba di Jl Twk Muhammad Daudsyah yang ramai untuk mendapatkan nasi khas Aceh yang kami dengar enak dan sudah berada di tempat itu sejak lama.
Meski tempatnya sederhana, tapi tempat sarapan tujuan kami tersebut tidak mengecewakan.
Bu guri yang enak, menurut selera umum di Aceh, ada lauk andalan seperti bebek dan ayam kalio, rendang limpa dan usus plus dendeng dan paru goreng.
Kios bu guri di Jl Twk Daudsyah tersebut memiliki itu semua.
Tanpa sengaja, seorang teman merekomendasikan saya untuk memesan kopi saring dibelah yang ia sebut cukup enak.
Tanpa ragu-ragu saya memesan kopi sebelah yaitu kopi saring di Warung Kopi Mei Baru. Sebagai penikmat kopi, saya segera terkesan rasanya yang pas.
Sebagai penikmat kopi, saya hanya meminum kopi hitam (kupi pheet) tanpa embel-embel apa pun: tanpa gula, cream atau susu.
Para peminum kopi pahit selalu dekat dengan jenis kopi arabika karena selain arabika tidak enak diminum tanpa tambahan gula, susu atau cream.
Robusta, yang tumbuh di dataran rendah hingga sedang dan banyak terdapat di pesisir barat dan dataran tinggi Gayo, hanya enak diminum dengan menambah gula atau susu.
Bahkan di Aceh, kopi jenis robusta ini kerap ditambah susu dan dihidang dalam gelas kecil dan disebut kopi "Sanger".
Demikian juga jenis liberika yang banyak tumbuh di Tangse, yang di luar Aceh banyak diproduksi di Sumatera Selatan dan Jambi, juga harus ditambah gula.
Tapi jenis arabika cukup mahal. Harga arabika per kg rata-rata adalah Rp170.000.
Bandingkan dengan harga robusta yang rata-rata hanya Rp 70.000, sementara liberika berkisar antara 83.000 hingga Rp 135.000 per kg.
Tak heran jika jaringan kedai kopi global yang tersebar seluruh dunia mencampur antara antara arabika dan robusta untuk menemukan rasa dan harga.
Paling sukses karena dapat menemukan formula tetap, diantaranya Starbucks dari Amerika.
Di Indonesia yang terkenal adalah Kopi Kenangan, jaringan kedai kopi on line paling agresif, yang berpusat di Jakarta.
Saya tidak terlalu terpikat dengan kopi blend atau house blend ini. Saya mencari kedai kopi atau warung kopi tertentu, yang di Aceh dikenal kopi mesin.
Di tempat ini dapat memesan kopi jenis arabika yang tidak blended.
Atau saya memesan roasted coffee beans seperti merk Tone dari Banda Aceh, dalam bentuk full wash, semi wash atau wine.
Saya menyediakan stok sedikit di rumah, dan saya menyuguhkan kepada teman-teman sesama penikmat kopi.
(Tapi bagi teman-teman sekedar peminum apa saja asal manis, saya menyediakan kopi saset cap kapal api).
Kembali kepada Warung Kopi "Mei Baru", yang tidak memiliki kopi mesin, maka berarti ia hanya meunyuguhkan kopi jenis robusta.
Karenanya saya merasa heran, bagaimana warung kupi saring tradisonal robusta ini dapat mengantarkan rasa yang menyentak tanpa tambahan gula atau lainnya?
Ketika saya tanya rahasianya, Hasmolie, sang pengelonya hanya tersenyum.
"Tidak ada rahasia karena saya menggunakan kopi Uleekareng seperti orang-orang lain," ujarnya, tanpa menghentikan mengisi gelas-gelas kopi dengan saring kopi yang sudah saya lihat sejak saya baru lahir di Aceh setengah abad lalu.
Selain kopi yang enak, Mei Baru ini mampu menjaga pelanggan juga dengan teman kopinya yaitu roti bohong.
Saya melihat semua orang yang berada dalam warung kopi itu sedang mengigit atau di depan mereka pasti tersedia roti bohong itu.
Jadi dapat dipastikan, roti jenis, yang hampir tidak terdapat di warung kopi lain tersebut, menjadi favorit pelanggan.
Semula saya berpikir, apa yang dimaksudkan roti bohong itu bolong tanpa isi di dalamnya. Tapi justru tidak demikian.
Itu adalah jenis roti biasa, yang menurut Hasmolie dipesan dari pabrik roti dan ditambah selai yang dibaut sendiri.
Selai inilah yang mungkin rahasianya. Selai ini sama dengan selai roti Samahani. Bedanya, selai di Mei Baru tidak terlalu manis -- rasa manis yang tepat.
Di Balik itu, Mei Baru ini, tidak hadir dengan serta merta dan dan dapat nama. Ia memiliki cerita panjang, yang sebelumnya dikenal hanya warung kopi "Mei".
Pendirinya Huang Sik Fung pada kisaran tahun 1970-an. Huang memilih tempat persis sebelah Bioskop Merpati, salah satu bioskop terkenal di Banda Aceh saat itu.
Selain itu masih ada Bioskop Gajah dan Bioskop Garuda. Bioskop Gajah itu kini berubah menjadi beberapa bangunan seperti Gedung KONI Aceh dekat Pante Perak.
Sementara Bioskop Garuda dekat Blangpadang. Jalan Twk Muhammad Daudsyah di Penayong, memang bukan down town. Karena down Town Banda Aceh tempo dulu adalah Pasar Aceh seperti Jalan Perdagangan.
Tapi Peunayong pusat perbelanjaan yang sangat favorit kala itu. Tidak sesibuk Pasar Aceh tapi tersedia semua barang yang diperlukan para warga banda Aceh.
Mulai dari pasar tradisonal hingga pasar modern ditambah bioskop.
Dengan demikian, karena ada bioskop dan benyak sekali warung kopi dan warung nasi, Peunayong menjadi pusat hiburan juga.
Huang Sik Fung menggelar warungnya di antara itu, dan cukup laris karena kopinya yang enak dan selai roti bohong sebagai andalan.
Selin itu, orang terbiasa melihat Warung Kopi Mei karena juga di sebalahnya ada sebuah warung-warung masakan China lainnya yang terkenal karena rasa mie kwetiau yang sangat enak.
Setelah Huang Sik Fung meninggal, Warung Kopi Mei jatuh kepada dua anaknya.
Tapi lambat laun, Mei terpecah. Si sulung tetap dengan nama "Mei", sementara adiknya mendirikan "Mei Baru".
Tapi Mei tidak mampu bertahan dan tutup. Mungkin penerusnya tidak terlalu tertarik melanjutkan warung kopi itu, dan seperti warga Tionghoa lainnya di Aceh lebih suka mencari nafkah di Jakarta.
Pewaris Mei mungkin juga pergi ke kota lain. Tapi Mei Baru terus bertahan. Kini dikelola oleh cucu Huang Sik Fung, Hasmolie dan adik perempuannya.
*) Penulis adalah Sahabat Kuliner Aceh dan mantan anggota DPR RI.
KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Kupi Senye
warkop
warung kopi
Peunayong
Opini TribunGayo
Teuku Taufiqulhadi
TribunGayo.com
berita gayo terkini
kopi
| Menyembelih Ego: Hikmah Terdalam dari Syiar Qurban |
|
|---|
| Zulhijjah: Antara Puasa Arafah dan Euforia Meugang |
|
|---|
| Aceh dan Sinyal Kemunduran: Ketika Kekhususan Kehilangan Ruhnya |
|
|---|
| Implementasi Kurikulum Merdeka untuk Membentuk Karakter Religius Siswa di SMAN 15 Takengon |
|
|---|
| Jangan Sentuh Harta Wakaf: Kutukan Sejarah bagi Mereka yang Mengkhianati Amanah Umat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Dr-Teuku-Taufiqulhadi-78.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.