Kupi Senye
Takengon Kolam Air Multiguna
Kami warga Takengon menyampaikan usul sederhana: kalau drainase tak dibenahi juga, bolehlah sekalian diresmikan sebagai “kolam kota multiguna.”
Oleh: Rizki Rahayu Fitri *)
Takengon diguyur hujan, dan seperti biasa, air bukan hanya jatuh dari langit tapi juga naik dari selokan.
Rumah-rumah kembali tergenang, jalanan berubah jadi aliran sungai kecil, dan warga kembali mengucap doa sambil mengangkat barang ke tempat tinggi.
Musim hujan datang dan bersama itu, banjir yang seolah punya jadwal rutin.
Setiap tahun, genangan datang seperti tamu yang tak pernah diundang, tapi tak juga diusir.
Pemerintah turun tangan? Ya, mereka datang meninjau, membawa clipboard dan kamera, lalu pergi sebelum air surut.
Yang tersisa adalah warga yang harus mengepel, menjemur, dan menghitung kerugian diam-diam.
Setiap musim hujan, pertanyaan yang sama selalu muncul: Kapan pemerintah serius membenahi drainase?
Jawaban yang datang? Biasanya dalam bentuk kunjungan dadakan, foto dokumentasi, lalu... hilang begitu saja bersama surutnya banjir.
Pemerintah datang cepat, memang, tapi lebih cepat lagi menghilangnya begitu kamera dimatikan.
Lucunya kalau bisa dibilang lucu, kami warga malah harus hafal titik-titik banjir.
Jalan Yos Sudarso? Bawa sandal jepit saja, lebih aman.
Simpang Lemah? Siap-siap dorong motor.
Kala Kemili? Jangan nekat lewat kalau tidak mau berenang dadakan.
Tak heran, sebagian warga mulai bercanda: Nanti kalau Takengon punya festival perahu, kita tak perlu kolam buatan cukup
tunggu musim hujan!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Rizki-Rahayu-Fitri-mahasiswa-asal-Aceh-Tengah.jpg)