Kamis, 7 Mei 2026

Kupi Senye

Takengon Kolam Air Multiguna

Kami warga Takengon menyampaikan usul sederhana: kalau drainase tak dibenahi juga, bolehlah sekalian diresmikan sebagai “kolam kota multiguna.”

Tayang:
Editor: Sri Widya Rahma
Dokumen Pribadi/Rizki Rahayu Fitri
KOLAM AIR MULTIGUNA - Rizki Rahayu Fitri, mahasiswa asal Aceh Tengah 

Yang lebih menyedihkan dari banjirnya adalah kenyataan bahwa kita mulai terbiasa.

Biasa melihat warung tergenang. Biasa melihat anak-anak sekolah mengarungi jalan pakai sandal basah.

Biasa mendengar janji-janji yang sama setiap musim hujan: Akan dibenahi, sedang dikaji, masuk rencana jangka menengah.

Sementara itu, rakyat hanya bisa bersabar. Tapi sabar pun ada batasnya.

Kami butuh solusi, bukan sekadar simpati. Butuh kerja nyata, bukan konferensi pers. Dan yang paling kami butuhkan: bukti bahwa pemerintah hadir bukan hanya saat darurat, tapi juga dalam upaya pencegahan.

Takengon memang basah lagi. Tapi jangan biarkan harapan kami ikut tenggelam.

Menurut data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah, per 28 April 2025, sedikitnya 7 kampung di Kecamatan Bebesen dan Lut Tawar terdampak banjir akibat hujan deras yang mengguyur selama lebih dari 6 jam.

Ketinggian air bervariasi, mulai dari 20 cm cukup untuk membasahi karpet baru hingga 80 cm cukup untuk membuat
ikan gabus merasa nyaman di ruang tamu.

Salah satu warga Kampung Bale Atu mengaku setiap kali hujan deras, ia tidak lagi mengecek prakiraan cuaca dari BMKG, tapi langsung mengecek ketinggian air di belakang rumah.

“BMKG bisa meleset, tapi selokan yang mampet tidak pernah bohong,” katanya sambil tertawa pahit.

Situasi makin lucu kalau tidak mau disebut tragis ketika diketahui bahwa anggaran penanggulangan bencana di Aceh Tengah tahun 2024 mencapai Rp 5,6 miliar, tapi warga masih harus gotong royong menggali saluran air pakai sekop sendiri.

Mungkin dana itu masih mengendap seperti air hujan di depan kantor camat.

Masalah klasik pun terulang: drainase tersumbat, sedimentasi meningkat, dan saluran air tidak terkoneksi satu sama lain mirip hubungan pejabat dengan rakyat: dekat saat butuh, hilang saat dibutuhkan.

Sementara itu, jalan nasional yang melintasi kota Takengon berubah fungsi sejenak menjadi arena lomba perahu karet dadakan.

Anak-anak senang, influencer lokal ramai-ramai membuat konten “Takengon Aquatic Edition,” dan warganet bertanya-tanya: apakah ini bentuk baru dari wisata air terjun horizontal?

Sumber: TribunGayo
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved