Kupi Senye
Reklamasi, Nama Lain dari Perampokan Ekologis Lut Tawar
TAKENGON hari ini berdiri di atas dua kekuatan, potensi dan bahaya. Di satu sisi, ia adalah kota yang menawan. Kaya alam, sejuk udaranya
Sayangnya, hari ini semua itu diabaikan.
Maka reklamasi itu bukan pembangunan ia adalah perampokan ruang hidup dengan dalih pertumbuhan.
Inilah yang disebut oleh para pakar sebagai ekosida, pembunuhan terhadap ekosistem secara sistemik dan perlahan.
Takengon punya peluang besar menjadi kota madya. Dengan jumlah penduduk yang tumbuh, ekonomi yang bergerak dari sektor pariwisata dan pertanian, serta sumber daya manusia (SDM) yang unggul, maka cita-cita menjadi kota mandiri dan maju sangat masuk akal.
Tapi, mari jujur bertanya, apakah kota itu masih akan hidup kalau danau yang menopang semuanya mati?
Wisata Takengon tumbuh karena keindahan danau. Jika airnya keruh, ikannya hilang, dan pesisirnya bau limbah, siapa yang akan datang?, apa gunanya vila mewah dan dermaga indah kalau yang tersisa hanya air beracun?, pembangunan tanpa ekologi adalah ilusi.
Pertumbuhan ekonomi tanpa keberlanjutan adalah jalan buntu. Maka pemerintah daerah hari ini
punya tugas historis: meluruskan arah pembangunan, bukan membiarkannya liar dan merusak. Kita butuh langkah-langkah strategis dan berani:
Pertama, hentikan seluruh bentuk reklamasi liar di sempadan danau. Audit seluruh bangunan yang sudah berdiri: apakah izinnya sah, apakah ada amdal dan apakah sesuai zonasi sempadan. Jika tidak, maka harus dibongkar.
Kedua, perkuat peraturan daerah tentang kawasan lindung dan tata ruang sekitar danau. Sempadan danau bukan ruang bisnis, melainkan ruang konservasi.
Pemerintah harus hadir sebagai penjaga ruang publik, bukan jadi penonton atau pembuka jalan bagi investor rakus.
Ketiga, libatkan masyarakat dalam setiap kebijakan pengelolaan danau. Rakyat Takengon bukan penonton.
Mereka adalah pemilik sejarah, budaya, dan masa depan danau ini. Proses partisipatif harus jadi fondasi pembangunan. Jangan buat mereka hanya menerima keputusan dari atas.
Keempat, desain ulang konsep pariwisata Takengon berbasis ekowisata berkelanjutan. Homestay boleh, kafe boleh, tapi harus ramah lingkungan, punya sistem pengelolaan limbah, dan tidak
merusak kawasan sempadan.
Pariwisata bukan soal membangun sebanyak-banyaknya bangunan, tapi soal menjaga keaslian alam agar wisata tetap hidup.
Dan terakhir, tanamkan kembali kesadaran ekologis di hati kita semua. Danau bukan warisan untuk dijual, tapi amanah untuk dijaga. Kita boleh membangun kota, tapi jangan dengan mengorbankan sumber air dan udara yang kita hirup setiap hari.
| Melawan Tafsir Patriarkal atas Perempuan dalam Islam |
|
|---|
| Desa Maju Ditentukan oleh Kepemimpinan, Bukan Sekadar Sistem |
|
|---|
| Aset Terbengkalai Ditengah Potensi Kampung Keramat Mupakat |
|
|---|
| Pacuan Kuda di Persimpangan Nurani: Antara Empati dan Pemulihan Ekonomi |
|
|---|
| Menimbang Trauma Healing Ditengah Luka yang Belum Pulih |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/PENULIS-RIZKI-RAHAYU-FITRI.jpg)