Kupi Senye
Anak-anak Kita Sedang Diburu
Hari-hari ketika langit terasa lebih dekat, ketika masjid mulai ramai oleh takbir, ketika orang-orang berpuasa Arafah demi mengharap ampunan Allah
Selalu ada pihak yang menyediakan jalan.
Selalu ada lelaki yang datang membawa uang dan kuasa.
Selalu ada manusia yang rela menukar masa depan anak orang lain demi memuaskan hawa nafsunya sendiri.
Karena itu, masyarakat harus berhenti melihat persoalan ini secara dangkal. Jangan buru-buru menyebutnya hanya “kenakalan remaja”.
Jangan pula sibuk mencari-cari siapa perempuan yang terlibat sambil melupakan laki-laki yang menjadi pengguna dan penikmat kerusakan itu.
Sebab dalam hampir semua kasus eksploitasi seksual, perempuan dan anak-anak sering berada dalam posisi paling rentan: dibujuk, dimanipulasi, ditekan keadaan ekonomi, atau dijerat secara psikologis.
Dalam ilmu psikologi trauma, eksploitasi seksual pada usia remaja adalah salah satu bentuk pengalaman paling merusak dalam perkembangan jiwa manusia.
Banyak korban tumbuh dengan rasa malu yang menghancurkan dirinya sendiri. Ada yang mengalami depresi bertahun-tahun.
Ada yang kehilangan rasa aman terhadap dunia.
Ada yang tidak lagi percaya kepada orang dewasa. Bahkan tidak sedikit yang hidup dengan luka batin hingga usia tua.
Tetapi yang paling menyakitkan, masyarakat sering gagal membaca luka itu.
Kita lebih sibuk menjaga citra sosial daripada menyelamatkan jiwa anak-anak kita sendiri. Kita takut berbicara karena pelaku mungkin punya jabatan, punya uang, atau punya pengaruh.
Kita takut nama daerah tercoreng, tetapi tidak takut jika generasi muda kita hancur diam-diam.
Aceh Tengah tidak boleh menjadi daerah yang saleh di permukaan, tetapi busuk di bawah permukaan.
Tidak boleh menjadi daerah yang ramai pengajian, tetapi diam terhadap predator seksual. Tidak boleh menjadi daerah yang keras berbicara tentang syariat, tetapi lemah melindungi anak-anak sekolah dari eksploitasi.
| Bimbingan Pernikahan dan Ketahanan Keluarga Muslim: Ikhtiar Membangun Generasi Berkualitas |
|
|---|
| Dari Ruang Kelas untuk Bumi: Mengenang Enam Bulan Pascabencana Hidrometeorologi |
|
|---|
| Idul Adha Menyembelih Sifat Kebinatangan dalam Diri |
|
|---|
| Menyembelih Ego: Hikmah Terdalam dari Syiar Qurban |
|
|---|
| Zulhijjah: Antara Puasa Arafah dan Euforia Meugang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Zakiul-Fuady-Muhammad-Daud-Dosen-IAIN-Takengon_.jpg)