Kupi Senye
Anak-anak Kita Sedang Diburu
Hari-hari ketika langit terasa lebih dekat, ketika masjid mulai ramai oleh takbir, ketika orang-orang berpuasa Arafah demi mengharap ampunan Allah
Sebab inti agama bukan hanya simbol kesalehan. Inti agama adalah menjaga martabat manusia.
Dalam maqāṣid al-syarī‘ah, perlindungan terhadap kehormatan manusia (hifẓ al-‘ird) dan perlindungan generasi (hifẓ al-nasl) adalah tujuan besar syariat Islam.
Artinya, ketika anak-anak sekolah mulai masuk ke lingkaran eksploitasi seksual, maka yang sedang terancam bukan hanya moral individu, tetapi masa depan sosial masyarakat itu sendiri.
Dan kita perlu sadar bahwa fenomena seperti ini tidak lahir tiba-tiba. Ia tumbuh dari banyak kerusakan yang dibiarkan terlalu lama.
Dari keluarga yang mulai kehilangan komunikasi dengan anak-anaknya. Dari orang tua yang terlalu sibuk mencari nafkah tetapi tidak lagi memahami luka batin anaknya.
Dari media sosial yang liar tanpa pengawasan. Dari budaya konsumtif yang membuat sebagian remaja mengukur harga dirinya dari gaya hidup dan uang.
Dari lingkungan sosial yang permisif terhadap dosa selama dibungkus kuasa dan materi.
Kita juga harus jujur mengatakan bahwa sebagian masyarakat mulai mengalami krisis keberanian moral.
Banyak yang tahu, tetapi memilih diam. Banyak yang mendengar, tetapi pura-pura tidak peduli. Padahal diam dalam situasi seperti ini bukan netralitas. Diam adalah bentuk pembiaran.
Lebih berbahaya lagi jika benar ada orang-orang berpengaruh yang terlibat.
Sebab ketika kekuasaan mulai bersentuhan dengan eksploitasi moral, maka masyarakat akan kehilangan rasa percaya terhadap sistem sosial itu sendiri. Anak-anak tidak lagi merasa aman.
Orang tua hidup dalam kecemasan. Dan masyarakat perlahan kehilangan keyakinan bahwa nilai-nilai agama masih benar-benar dijaga.
Karena itu, persoalan ini tidak boleh selesai hanya dengan kegaduhan media sosial atau penangkapan satu dua orang kecil. Jika memang ada jaringan, maka harus dibongkar sampai ke akar-akarnya.
Jika ada pihak yang melindungi, maka harus diseret ke ruang hukum tanpa pandang bulu. Jangan biarkan hukum hanya tajam kepada orang lemah, tetapi tumpul kepada mereka yang punya uang dan jabatan.
Para ulama juga tidak boleh diam. Mimbar-mimbar masjid harus mulai berbicara tentang kerusakan sosial nyata yang sedang mengancam generasi kita.
| Bimbingan Pernikahan dan Ketahanan Keluarga Muslim: Ikhtiar Membangun Generasi Berkualitas |
|
|---|
| Dari Ruang Kelas untuk Bumi: Mengenang Enam Bulan Pascabencana Hidrometeorologi |
|
|---|
| Idul Adha Menyembelih Sifat Kebinatangan dalam Diri |
|
|---|
| Menyembelih Ego: Hikmah Terdalam dari Syiar Qurban |
|
|---|
| Zulhijjah: Antara Puasa Arafah dan Euforia Meugang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Zakiul-Fuady-Muhammad-Daud-Dosen-IAIN-Takengon_.jpg)