Kupi Senye
Anak-anak Kita Sedang Diburu
Hari-hari ketika langit terasa lebih dekat, ketika masjid mulai ramai oleh takbir, ketika orang-orang berpuasa Arafah demi mengharap ampunan Allah
Oleh Zakiul Fuady Muhammad Daud
SEPULUH awal Zulhijjah seharusnya menjadi hari-hari paling tenang bagi jiwa seorang Muslim.
Hari-hari ketika langit terasa lebih dekat, ketika masjid mulai ramai oleh takbir, ketika orang-orang berpuasa Arafah demi mengharap ampunan Allah dua tahun sekaligus, dan ketika hati manusia perlahan dilunakkan oleh zikir dan ibadah.
Tetapi ketenangan spiritual itu mendadak terusik oleh kabar yang begitu gelap: dugaan adanya sindikat yang menjadikan anak-anak sekolah sebagai “selimut” bagi pejabat dan lelaki berduit di Aceh Tengah.
Sulit menjelaskan betapa sesaknya dada ketika mendengar isu seperti itu muncul justru di hari-hari yang dimuliakan Allah.
Di saat jutaan jamaah haji sedang menangis di Arafah memohon ampunan, di saat umat Islam diperintahkan memperbanyak istighfar dan menundukkan hawa nafsu, kita justru dipaksa menatap kemungkinan adanya nafsu yang dibiarkan berkeliaran tanpa rasa takut kepada Tuhan.
Jika benar pengakuan dan informasi yang beredar itu memiliki dasar fakta, maka ini bukan lagi sekadar kasus asusila biasa.
Ini bukan hanya persoalan zina. Ini bukan hanya cerita gelap media sosial yang akan hilang beberapa hari kemudian.
Ini adalah alarm sosial yang sangat serius tentang retaknya benteng moral masyarakat kita.
Sebab yang sedang dibicarakan bukan perempuan dewasa yang memilih jalan hidup tertentu karena tekanan ekonomi.
Yang sedang dibicarakan adalah anak-anak sekolah.
Generasi yang seharusnya dijaga, dilindungi, dipeluk, dibimbing, dan diselamatkan masa depannya.
Tetapi kini justru diduga dijadikan objek pemuas syahwat orang-orang dewasa yang kehilangan hati nurani.
Dan mari bicara jujur: anak-anak tidak pernah masuk ke dunia gelap seperti itu sendirian.
Selalu ada orang dewasa yang membuka pintu.
| Bimbingan Pernikahan dan Ketahanan Keluarga Muslim: Ikhtiar Membangun Generasi Berkualitas |
|
|---|
| Dari Ruang Kelas untuk Bumi: Mengenang Enam Bulan Pascabencana Hidrometeorologi |
|
|---|
| Idul Adha Menyembelih Sifat Kebinatangan dalam Diri |
|
|---|
| Menyembelih Ego: Hikmah Terdalam dari Syiar Qurban |
|
|---|
| Zulhijjah: Antara Puasa Arafah dan Euforia Meugang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Zakiul-Fuady-Muhammad-Daud-Dosen-IAIN-Takengon_.jpg)