Kupi Senye
Anak-anak Kita Sedang Diburu
Hari-hari ketika langit terasa lebih dekat, ketika masjid mulai ramai oleh takbir, ketika orang-orang berpuasa Arafah demi mengharap ampunan Allah
Sebab agama tidak diturunkan hanya untuk mengatur ritual, tetapi juga untuk menjaga manusia dari kehancuran moral.
Sekolah pun harus berbenah, pendidikan hari ini tidak cukup hanya mengejar nilai akademik, anak-anak membutuhkan perlindungan psikologis, pendidikan moral, pengawasan digital, dan ruang aman untuk bercerita.
Banyak remaja hari ini hidup dalam kesepian emosional meskipun tampak aktif di media sosial dan kesepian seperti itu sering menjadi pintu masuk bagi manipulasi dan eksploitasi.
Kepada para orang tua, ini juga saatnya bercermin.
Anak-anak hari ini hidup di dunia yang jauh lebih berbahaya dibanding generasi sebelumnya.
Jangan hanya memastikan mereka berangkat sekolah. Pastikan juga mereka merasa dicintai, didengar, dan aman di rumahnya sendiri.
Sebab banyak anak terjebak dalam lingkaran gelap bukan karena mereka buruk, tetapi karena mereka mencari perhatian dan tempat pulang yang tidak mereka temukan di rumah.
Dan kepada siapa pun yang mungkin terlibat dalam kerusakan ini, satu hal perlu diingat: tidak semua dosa selesai di dunia.
Ada air mata anak-anak yang tidak pernah hilang dari langit, ada doa orang-orang yang terzalimi yang berjalan tanpa hijab menuju Allah.
Ada kehancuran hidup yang kadang datang perlahan sebagai akibat dari kezaliman yang dianggap kecil.
Sebab sejarah selalu memperlihatkan satu hal yang sama: sebuah masyarakat tidak runtuh pertama kali karena kemiskinan atau konflik politik.
Ia runtuh ketika orang-orang dewasanya kehilangan rasa takut kepada Tuhan, sementara anak-anaknya mulai diperdagangkan demi syahwat dan kepentingan duniawi mereka sendiri.(*)
*) Penulis adalah Dosen IAIN Takengon
KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
| Bimbingan Pernikahan dan Ketahanan Keluarga Muslim: Ikhtiar Membangun Generasi Berkualitas |
|
|---|
| Dari Ruang Kelas untuk Bumi: Mengenang Enam Bulan Pascabencana Hidrometeorologi |
|
|---|
| Idul Adha Menyembelih Sifat Kebinatangan dalam Diri |
|
|---|
| Menyembelih Ego: Hikmah Terdalam dari Syiar Qurban |
|
|---|
| Zulhijjah: Antara Puasa Arafah dan Euforia Meugang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Zakiul-Fuady-Muhammad-Daud-Dosen-IAIN-Takengon_.jpg)