Kupi Senye

Ramadhan di Era Digital: Momen Pengendalian Diri

Ramadan, bulan suci dalam agama Islam, telah lama menjadi waktu yang dinanti-nantikan bagi umat Muslim di seluruh dunia.

|
Editor: Rizwan
For TribunGayo,com
Muhammad Ali, Dosen Ilmu Komunikasi dan Kepala Laboratorium Komputasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh, Aceh. 

Oleh: MUHAMMAD ALI, S.Ag., M.Si. *)

Ramadan, bulan suci dalam agama Islam, telah lama menjadi waktu yang dinanti-nantikan bagi umat Muslim di seluruh dunia.

Ini adalah bulan di mana praktik puasa, refleksi spiritual, dan peningkatan ibadah menjadi pusat perhatian.

Namun, dalam era digital yang terus berkembang dengan pesat, tantangan baru muncul dalam menjalani Ramadan dengan penuh kesadaran dan pengendalian diri.

Dahulu, Ramadan ditandai dengan perubahan signifikan dalam rutinitas harian. Puasa dari fajar hingga matahari terbenam, membatasi makan, minum, dan perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama.

Namun, dengan kehadiran teknologi digital, tantangan baru muncul. Internet, media sosial, dan perangkat mobile telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, bahkan selama bulan suci ini.

Salah satu tantangan utama Ramadan di era digital adalah distorsi waktu.

Sementara Ramadan secara tradisional menekankan pentingnya menggunakan waktu dengan bijaksana untuk memperkuat hubungan dengan Allah dan sesama, media digital dapat mengalihkan perhatian kita dengan tiba-tiba.

Konten yang tidak relevan atau bahkan memicu godaan dapat dengan mudah menyelinap masuk melalui layar ponsel kita, mengalihkan perhatian dari praktik spiritual yang seharusnya menjadi fokus utama.

Selain itu, kecenderungan untuk terlibat dalam media sosial dapat mengganggu pengalaman Ramadan. Daripada benar-benar merenungkan makna puasa dan meningkatkan kesadaran diri, banyak dari kita cenderung membagikan setiap momen Ramadan kita melalui platform digital.

Meskipun berbagi pengalaman ini bisa menjadi sarana untuk menginspirasi dan memotivasi orang lain, terlalu fokus pada eksposur sosial dapat mengaburkan tujuan sejati dari Ramadan itu sendiri.

Namun, kita tidak bisa menyalahkan teknologi semata-mata atas tantangan ini.

Baca juga: Golput Dapat Mengganggu Demokrasi

Sebaliknya, kita perlu menemukan cara untuk mengintegrasikan penggunaan teknologi dengan praktik spiritual dalam Ramadan.

Salah satu pendekatan yang dapat diambil adalah dengan mengadopsi kesadaran digital.

Ini melibatkan penggunaan teknologi secara bertanggung jawab, dengan membatasi waktu layar dan menghindari konten yang tidak mendukung tujuan spiritual.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved