Kupi Senye
Total-Awareness Menuju Perubahan
Dalam pandangan Muhammad Asad, takwa merupakan self-awareness (kesadaran diri) seseorang tentang eksistensinya di alam raya ini.
Jika terjadi kerusakan dia akan tampil sebagai kelompok yang berjuang melakukan perbaikan.
Di seberang sana, ada kelompok lain sebagai lawan yang mengaku menjadi orang-orang yang berkesadaran diri dan sebagai pejuang kemanusiaan.
Padahal yang mereka lakukan adalah merusak keseimbangan alam raya, mengacaukan hubungan yang harmonis antar sesama manusia dan menciptakan malapetaka (fasad).
Alquran menyebut kelompok ini dengan munafik (hypocrite), dan mereka juga disebut dengan mufsidun (para perusak).
Kelompok ini sebenarnya kebalikan dari yang pertama tadi, yakni orang-orang yang tidak memiliki kesadaran diri.
Lebih jauh, kesadaran diri dalam alqur’an bersifat menyeluruh (total-awareness). Yakni kesadaran yang mencakup aspek ketuhanan, kemanusiaan, dan kealaman.
Pertama, kesadaran ketuhanan berarti adanya kesadaran yang penuh dalam dirinya bahwa dia adalah seorang hamba yang sangat fakir lagi hina dihadapan Allah SWT karena diciptakan dari setetes air hina.
Namun dengan penghambaan yang totalitas kepada Allah SWT, kehinaan itu dapat mengubahnya menjadi makhluk mulia (QS. al-‘Alaq: 1-5).
Kedua, kesadaran kemanusiaan. Yaitu sebuah kesadaran diri seseorang bahwa dirinya adalah manusia yang membutuhkan manusia lainnya.
Sehebat apapun dia, tetap tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri.
Kalau pun dia memiliki segudang emas, dia tetap membutuhkan yang lain untuk memenuhi kebutuhan makanan, kesehatan, tempat tinggal dan sebagainya.
Contoh yang lebih ekstrim adalah pasangan hidup. Sehebat-hebatnya manusia, pasti membutuhkan pesangan hidup.
Ini menunjukkan bahwa manusia itu memang makhluk yang saling membutuhkan, saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya.
Ketiga, kesadaran kealaman, di mana manusia juga menyadari bahwa dirinya hidup di alam raya yang berdampingan dengan makhluk-makhluk Tuhan lainnya.
Dalam proses ini manusia dipercaya sebagai pengelola dan pengendali alam raya sehingga sifat-sifat melindungi, melestarikan, memperbaiki, menyayangi, mewariskan, dan sifat positif lainnya harus menjadi bagian yang menyatu dalam dirinya.
Tidak Dikategorikan pada Makhluk Perusak
Kupi Senye
Opini TribunGayo
Johansyah
Ramadhan
TribunGayo.com
berita gayo terkini
Aceh Tengah
Takengon
| Menolak Bantuan Dunia, Memelihara Gengsi yang Mahal |
|
|---|
| Banjir Sumatra, Cara Alam Membuka Aib Pemerintah |
|
|---|
| Fenomena Cognitive Dissonance pada Korban Pelecehan Seksual yang Dilakukan oleh Orang Terdekat |
|
|---|
| Kelangkaan Gas Elpiji di Aceh Tengah: Cermin Lemahnya Pengawasan dan Ketimpangan Distribusi Subsidi |
|
|---|
| Peran Baitul Mal Aceh Tengah dalam Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem di Kampung Keramat Mupakat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/JOHANSYAH-29032025.jpg)