Kupi Senye
Total-Awareness Menuju Perubahan
Dalam pandangan Muhammad Asad, takwa merupakan self-awareness (kesadaran diri) seseorang tentang eksistensinya di alam raya ini.
Seekor harimau yang buas menerkam mangsanya untuk dimakan tidak akan pernah dikategorikan pada makhluk perusak, sebab fitrah harimau memakan kerbau, kambing, dan makhluk-makhluk lain yang sudah ditakdirkan menjadi mangsanya.
Namun ketika karakter harimau ini ditiru oleh manusia, di mana dia tampil seperti seekor harimau buas yang memangsa manusia lain, merampas hak mereka, dan melakukan penindasan.
Maka inilah sesungguhnya manusia yang mufsid (perusak yang tidak memiliki kesadaran diri) dan telah keluar dari fitrahnya sebagai manusia yang seharusnya melindungi, dan saling menyayangi.
Dengan demikian, total-awareness menjadi modal utama dalam melakukan perubahan. Terlebih dalam kondisi carut-marut bangsa saat ini yang tampaknya semakin jauh dari ekspektasi publik.
Kaum elit kita tampaknya banyak diisi oleh orang-orang yang bermental hypocrite. Kesejahteraan rakyat tidak lebih dari sekedar pertunjukan baca puisi dalam panggung kekuasaan.
Bahasanya demikian menggugah, tapi nyatanya rakyat semakin susah.
Ketika Negara dikelola oleh orang-orang yang bermental hypocrite, jangan harap akan berkembang dan maju.
Negara tersebut pasti akan menuju kehancuran. Ini adalah sunnatullah yang tidak dapat dibantah, dan Alquran juga menegaskan demikian.
Apabila penduduk sebuah negeri memiliki kesadaran tinggi, maka negeri tersebut akan dianugerahi kesejahteraan dan kedamaian (lihat QS. al-A’raf: 96).
Maka semboyan ‘NKRI harga mati’ oleh beberapa kalangan adalah ungkapan yang keliru untuk menunjukkan kecintaan terhadap negeri ini.
Semboyan yang lebih tepat adalah ‘kesadaran diri adalah harga mati’ sebab inilah yang paling kita butuhkan tanpa batas waktu.
Tanpa kesadaran diri ini semua hanya akan menjadi ilusi dan mimpi di siang hari.
Saat ini kita butuh orang-orang yang sadar akan pentingnya membangun bangsa dengan memperjuangkan hak rakyat, bukan orang yang pura-pura sadar dan mengaku melakukan perbaikan, padahal mereka terus saja merusak.
Mari berdo’a, semoga Ramadhan ini betul-betul bermakna bagi semua, terutama untuk para kaum elit yang berkuasa.
Kiranya hati mereka terketuk untuk memperjuangkan mereka yang menderita. Telinga mereka dapat mendengarkan jeritan rakyat yang sengsara.
Mata mereka bisa melihat apa yang terjadi sebenarnya. Semoga saja mereka sadar bahwa rakyat bukanlah musuh berbahaya, tapi kumpulan manusia yang masa depan mereka ada dalam genggamannya.
Wallahu alam Bisahwab!
*) Penulis adalah Dosen STIT Al-Washliyah Aceh Tengah
KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Kupi Senye
Opini TribunGayo
Johansyah
Ramadhan
TribunGayo.com
berita gayo terkini
Aceh Tengah
Takengon
| Menolak Bantuan Dunia, Memelihara Gengsi yang Mahal |
|
|---|
| Banjir Sumatra, Cara Alam Membuka Aib Pemerintah |
|
|---|
| Fenomena Cognitive Dissonance pada Korban Pelecehan Seksual yang Dilakukan oleh Orang Terdekat |
|
|---|
| Kelangkaan Gas Elpiji di Aceh Tengah: Cermin Lemahnya Pengawasan dan Ketimpangan Distribusi Subsidi |
|
|---|
| Peran Baitul Mal Aceh Tengah dalam Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem di Kampung Keramat Mupakat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/JOHANSYAH-29032025.jpg)