Jumat, 22 Mei 2026

Kupi Senye

Warkop Mei Baru di Peunayong

Ada sebuah tempat minum kopi di Peunayong yang masih tetap mempertahankan tradisionalitasnya tapi dengan rasa kopi yang dapat merindukan

Tayang:
ISTIMEWA
OPINI TRIBUNGAYO- Dr Teuku Taufiqulhadi adalah Sahabat Kuliner Aceh dan mantan anggota DPR RI yang mengirimkan tulisan opininya ke TribunGayo.com, Selasa (11/2/2025). Ia menulis opini tentang 'Warkop Mei Baru di Peunayong'. 

Oleh: Dr Teuku Taufiqulhadi *)

Ketika kian menjamur cafe (setidaknya demikian penamaannya agar terdengar megah dan globalis) di Banda Aceh.

Ada sebuah tempat minum kopi di Peunayong yang masih tetap mempertahankan tradisionalitasnya tapi dengan rasa kopi yang dapat merindukan: Warung Kopi "Mei Baru".

Suatu pagi Minggu ketika ngelayapan mencari bu guri (nasi gurih), kami tiba di Jl Twk Muhammad Daudsyah yang ramai untuk mendapatkan nasi khas Aceh yang kami dengar enak dan sudah berada di tempat itu sejak lama. 

Meski tempatnya sederhana, tapi tempat sarapan tujuan kami tersebut tidak mengecewakan.

Bu guri yang enak, menurut selera umum di Aceh, ada lauk andalan seperti bebek dan ayam kalio, rendang limpa dan usus plus dendeng dan paru goreng.

Kios bu guri di Jl Twk Daudsyah tersebut memiliki itu semua.

Tanpa sengaja, seorang teman merekomendasikan saya untuk memesan kopi saring dibelah yang ia sebut cukup enak.

Tanpa ragu-ragu saya memesan kopi sebelah yaitu kopi saring di Warung Kopi Mei Baru. Sebagai penikmat kopi, saya segera terkesan rasanya yang pas.

Sebagai penikmat kopi, saya hanya meminum kopi hitam (kupi pheet) tanpa embel-embel apa pun: tanpa gula, cream atau susu.

Para peminum kopi pahit selalu dekat dengan jenis kopi arabika karena selain arabika tidak enak diminum tanpa tambahan gula, susu atau cream.

Robusta, yang tumbuh di dataran rendah hingga sedang dan banyak terdapat di pesisir barat dan dataran tinggi Gayo, hanya enak diminum dengan menambah gula atau susu.

Bahkan di Aceh, kopi jenis robusta ini kerap ditambah susu dan dihidang dalam gelas kecil dan disebut kopi "Sanger". 

Demikian juga jenis liberika yang banyak tumbuh di Tangse, yang di luar Aceh banyak diproduksi di Sumatera Selatan dan Jambi, juga harus ditambah gula.

Tapi jenis arabika cukup mahal. Harga arabika per kg rata-rata adalah Rp170.000.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved